Berita

Harga Rumah Subsidi Diusulkan Naik 7 Persen Tahun Ini Akibat Kenaikan Harga Besi

Naiknya harga berbagai komoditas di tahun 2022 ini ikut membuat DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur, meminta pemerintah untuk menaikkan harga r

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/SRI HANDI LESTARI
Ilustrasi pembangunan rumah perumahan subsidi yang tahun 2022 ini diusulkan REI naik 7 persen. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Naiknya harga berbagai komoditas di tahun 2022 ini ikut membuat DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur, meminta pemerintah untuk menaikkan harga rumah subsidi. Mengingat di tahun 2021, harga rumah subsidi berada di kisaran Rp 155 juta per unit.

"Sedangkan di tahun 2022 ini, harga komoditas pendukung properti termasuk rumah subsidi juga mengalami kenaikan. Satu di antaranya adalah besi," kata Andi Rahmean Pohan, Sekretaris REI Jatim di Surabaya, Minggu (13/2/2022).

Selain harga komoditas, inflasi tahunan juga mengalami kenaikan. Dari catatan Badan Pusat Statistik, angka inflasi memang hanya dikisaran 3 persen di tahun 2021.

"Namun adanya kenaikan berbagai jenis komoditas yang menjadi bahan baku properti, salah satunya besi, kami meminta kenaikan harga rumah subsidi di tahun 2022 ini bisa di kisaran 7 persen," jelas Andi.

Hal itu juga sudah disampaikan ke pemerintah. Bila rumah subsidi yang diperuntukan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Jatim saat ini dikisaran Rp 155 juta, maka kenaikan 7 persen hanya di Rp 162 juta.

"Jadi saya kira tidak terlalu berat bila naik di angka tersebut," tambahnya.

Apalagi bila dibandingkan ke angka inflasi di sektor konstruksi untuk berbagai jenis bahan baku, jasa dan lahan, di tahun 2021 inflasi berada di angka 14 persen.

Dalam hal itu, menurut Andi, pemerintah melalui Kementerian PUPR hanga melihat inflasi secara keseluruhan yang nilainya sebesar 3 sampai 4 persen. Tapi dari keseluruhan itu ada bawang, cabai yang tidak berhubungan langsung dengan kontruksi.

"Tetapi kami tahu bahwa daya beli masyarakat belum meningkat 100 persen yang disebabkan oleh adanya pandemi," ungkap Andi.

Usulan tersebut, sejauh ini belum disetujui pemerintah. Meski belum disetujui, ia memandang tidak akan berdampak dan mengganggu proyek pembangunan tahun ini.

"Namun dari segi pengusaha akan sedikit mengerem laju penjualan. Dengan asumsi dia harus berhitung terhadap komponen-komponen biaya yang mengalami kenaikan," beber Andi.

Sedangkan kalau berhenti, bisa menyebabkan cashflow perusahaan akan terganggu. Jadi ritme akan tetap berjalan tapi tidak akan sesuai harapan.

Andi mengungkapkan, dari informasi diterima oleh pihaknya, diharapkan dalam satu bulan keputusan tentang kenaikan harga dan juga pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bisa keluar.

Sementara itu, kontribusi REI pada pembangunan proyek rumah subsidi saat ini cukup berarti. Dari target 1 juta rumah yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, REI menyumbang kurang lebih 30 hingga 35 persen dari daya serap pasar yang ada.

"Kami berharap tahun ini bisa membangun 12.000 hingga 15.000 unit rumah subsidi ini," pungkas Andi.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved