Berita Entertainment
King Faaz Diminta Nasihati Rafathar yang Suka Marah-marah, Nagita Slavina: Dengerin Abangnya
King Faaz diminta nasihati Rafathar. Putra sulung Raffi Ahmad dan Nagita Slavina disebut suka marah-marah.
TRIBUNJATIM.COM - King Faaz kini tengah jadi salah satu anak artis idola warganet.
Sebelumnya, sosok Rafathar, putra sulung Raffi Ahmad dan Nagita Slavina juga jadi perhatian publik.
Belakangan diketahui King Faaz dan Rafathar main bareng.
Pertemuan Rafathar dengan King Faaz, putra Fairuz A Rafiq pun menuai sorotan.
Baca juga: King Faaz Puasa Full dari Umur 5, Fairuz A Rafiq Beber Cara Didik Anak, Galih Ginanjar: Terima Kasih
Baca juga: Dulu Tak Akui Anak Fairuz, Galih Ginanjar: Saya Sesali Itu, Kini Kesholehan King Faaz Dipuji-puji
Memang, King Faaz dan Rafathar menjadi anak-anak idola banyak warganet.
Putra sulung Fairuz A Rafiq, King Faaz belakangan ini tengah ramai diperbincangkan.
Bagaimana tidak, King Faaz muncul ke publik tak hanya dengan penampilan yang semakin dewasa, namun juga dengan cara bicara dan sikapnya yang bijaksana.

Baru-baru ini, Fairuz A Rafiq memboyong suami serta anak-anaknya untuk berkunjung ke rumah sang Sultan Andara, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
King Faaz pun tampak enjoy bermain dengan Rafathar begitu juga sebaliknya.
Baca juga: Sikap Rafathar Bertemu Anak Tante Lala, Rafa Sempat Jatuh di Rumah Raffi dan Nagita, Perekam Teriak
Keduanya pun diminta duduk bersama sambil mengobrol dan bertukar cerita.
Gigi yang tampaknya dibuat pusing oleh perangai Rafathar yang suka marah-marah, lantas bertanya kepada King Faaz soal apa yang dilakukannya untuk menahan amarah.

Tak disangka jawaban King Faaz amat sangat bijaksana.
Gigi dan Fairuz bahkan tak menyangka jika bocah 10 tahun itu memiliki pemikiran yang berbeda dari anak seusianya.
"Ini dong tolong kasih tahu Rafathar biar gimana sih caranya nahan emosi, mengurangi marah-marah gimana?" ujar Nagita.
"Yang pertama, benar, diam. Banyak istighfar bukannya main game, bukannya nonton TV," ujar King Faaz merespon jawaban Rafathar, dikutip dari YouTube Rans Entertainment, Rabu (27/4/2022).
Selain itu, King Faaz juga menganjurkan Rafathar agar banyak-banyak bersabar dengan cara mengucap istighfar dan berdoa kepada Tuhan YME.
"Yang kedua sabar, yang ketiga berdoa," tandas King Faaz.
"Nah tuh dengerin itu abangnya," sahut Nagita.
Tak mau kalah, Rafathar juga membagikan tipsnya untuk menahan emosi.
Putra sulung Sultan Andara itu menganjurkan agar King Faaz bermain gadget dan menonton tayangan televisi saat sedang emosi.
Baca juga: 8 Tahun Nikahi Raffi, Baru Terkuak Rahasia di Balik Rumah Tangga Nagita, Thariq Sampai Takut Nikah
Baca juga: Akhirnya Fairuz Jujur soal Tabiat Sonny, Ibu King Faaz Benci: Kalau Jadi Jahat Bisa Jahat Banget
"Nomor empat ada dua, keempat main gadget sama nonton TV," ujar Rafathar menuai tawa dari Fairuz A Rafiq dan Sonny Septian.
Nagita yang mendengar jawaban sang anak pun geleng-geleng kepala dan mengaku akan semakin emosi melihat perangai Rafathar.
"Yang ada malah bikin mama tambah emosi," sambung Gigi heran.
"Kalau bisa mainnya Sabtu Minggu," timpal King Faaz.

Baca juga: King Faaz Puasa Full dari Umur 5, Fairuz A Rafiq Beber Cara Didik Anak, Galih Ginanjar: Terima Kasih
5 Metode Mengajar Anak Mengelola Emosi
Pada awal tumbuh kembang, anak menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya.
Interaksi anak dengan orang terdekat memengaruhi optimalitas perkembangan sosial anak.
Meskipun umumnya anak mengalami tahapan perkembangan emosi sama, kecepatan perkembangan emosi anak akan berbeda satu dengan lain.
Pengalaman belajar anak adalah salah satu yang memiliki dampak penting bagi perkembangan emosi anak.
Forum Sahabat Keluarga dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan ada 5 kegiatan belajar yang menunjang pola perkembangan emosi anak:
1. Pembelajaran metode spontan
Anak melakukan proses belajar melalui teknik spontanitas. Mereka belajar mengekspresikan perasaan dan emosi yang dirasakan melalui proses spontan.
Pada tahapan ini, anak-anak sering menunjukkannya bentuk emosi yang tidak terduga.
Jangan kaget apabila respon emosi yang ditunjukkan anak seringkali tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh orangtua.
Misalnya, saat pertama kali anak usia bayi diberikan mainan terompet, ada anak akan menunjukkan ekspresi menangis ketimbang tertawa.
2. Pembelajaran melalui imitasi
Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi perkembangan emosi anak. Anak-anak akan meniru emosi dari yang dilihatnya di lingkungan paling dekat, seperti keluarga.
Saat orangtua menunjukkan kebahagiannya melalui wajah tersenyum, anak juga akan memantulkan kebahagiaan yang sama.
3. Pembelajaran melalui tokoh idola
Ada masa tertentu anak tertarik dan kagum dengan tokoh tertentu dan cenderung mempersamakan dirinya. Hal ini turut mengembangkan pola emosi pada diri anak. Orangtua dapat mencari tahu sosok atau tokoh yang dikagumi dan melihat reaksi emosi anak.
Banyak tokoh yang muncul dan menjadi idola anak saat ini. Meskipun begitu, orangtua harus membantu memilah tokoh yang memang memiliki norma dan karakter sesuai di lingkungan anak.
Misalnya di Indonesia, orangtua dapat menceritakan tentang tokoh pahlawan yang memiliki semangat besar dalam belajar.
Misalnya Ir. Soekarno yang memiliki kecakapan beragam bahasa atau Mohammad Hatta yang gemar membaca buku.
4. Pembelajaran melalui pengkondisian
Pada metode ini anak belajar dengan cara asosiasi. Anak kecil masih kurang kemampuan dalam menalar dan kurang mampu menilai pengalaman secara kritis.
Emosi usia dini juga terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan anak.
Misalnya mengelompokkan anak dengan teman-teman lainnya. Anak akan saling belajar dan secara tidak langsung akan memperoleh pemahaman melalui pengondisian tersebut.
5. Pembelajaran melalui latihan
Anak dapat memperoleh perkembangan emosi melalui pengawasan dan bimbingan. Anak dapat diajari cara bereaksi yang dapat diterima dan menyenangkan. Dengan memberikan pengarahan, anak juga dapat mengondisikan emosinya.
Di sinilah orangtua dapat memberikan arahan dan pendampingan yang sederhana dan tidak menjenuhkan. Misalnya orangtua dapat memberikan permainan yang menyangkut pengendalian emosi, seperti bermain drama.
Anak-anak yang terampil dalam menunjukkan emosi terhadap orang lain tentu diperoleh dari pengalamannya melihat orang lain.
Apa yang ditunjukkan anak adalah hasil yang didapatkan dari interaksinya sehari-hari.
Aktivitas bermain, belajar dan hal lainnya memberikan dorongan anak dalam mengelola emosinya. Anak-anak barang kali memang belum memahami apa yang dilakukannya.
Sebab, dalam perkembangannya anak-anak masih membutuhkan gambaran yang dilakukannya. Di sinilah, orangtua menjadi cermin yang akan memantulkan gambaran kepribadian anak nanti.
Apa yang dilakukan orangtua akan menjadi pengalaman berharga bagi diri anak. Sehingga ia akan menyimpan ingatan tersebut dan akan memanggilnya kembali saat ia hendak melakukan hal yang sama.
Anak-anak dengan kemampuan pengelolaan emosi akan dapat mudah menerima orang lain. Anak-anak akan berkembang dengan kepribadian sosial dan dapat menjalin pertemanan dengan lebih baik.
Anak-anak juga akan mudah diterima banyak orang karena kepribadiannya. Pengenalaan emosi sejak dini akan memberikan kemudahan dalam memberikan pemahaman bagi anak.
Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id
Baca berita lainnya tentang King Faaz dan Nagita Slavina
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com