Berita Jatim

Cara Warga Blitar Protes Jalan Desa Rusak, Buka 'Wisata Mandi Lumpur' di Jalan Berlubang

Banyaknya jalan rusak yang berubah jadi kubangan lumpur di musim penghujan seperti saat ini seperti jadi lomba kreatif buat warga Blitar

Tayang:
Penulis: Imam Taufiq | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Imam Taufiq
Kerusakan jalan Desa Wonodadi, Bitar kian parah karena jadi kubangan lumpur jika musim hujan seperti sekarang ini 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Imam Taufiq

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR-Banyaknya jalan rusak yang berubah jadi kubangan lumpur di musim penghujan seperti saat ini seperti jadi lomba kreatif buat warga Kabupaten Blitar ketika menyindir Pemkab Blitar.

Jika tiga minggu lalu, warga Desa Ngembul, Kecamatan Binangun, memprotes kerusakan jalan desanya, yang berubah jadi kubangan lumpur dengan disebar ikan lele lalu dipancing dan ditangkap ramai-ramai, namun di desa lainnya juga tak kalah menarik.

Seperti yang dilakukan oleh warga Desa/Kecamatan Sidodadi, Senin (6/3/2023) siang.

Mereka melakukan protes atas kerusakan jalan desanya bukan dengan menanam pohon pisang atau memportalnya namun membikin poster sindiran yang cukup kreatif. Isi tulisannya, telah dibuka wisata water park Wonodadi, dengan fasilitas antara lain, mandi lumpur, jeglongan kejut, outbond jungkir balik debgan free betadin (obat luka).

"Kami sengaja nggak melakukan aksi turun jalan atau menanam pohon di tengah jalan. Itu kami anggap biasa karena sudah umum dilakukan setiap warga memprotes kerusakan jalan desanya. Namun, dengan sindiran tulisan seperti itu, kami berharap telinganya para pejabat jadi lebih tipis karena pesan kami sudah sangat jelas," ujar Ilm, pria berusia 29 tahun, yang selama ini cukup getol memperjuangkan perbaikan jalan desanya itu.

Menurutnya, warga itu sebenarnya sudah kehilangan cara buat menyampaikan aspirasinya atas kerusakan jalan desanya sepanjang sekitar 4,5 km atau sampai desa tetangganya, Desa Jati.

Selama bertahun-tahun, warga sudah melakukan protes berkali-kali namun tidak ada respons dari Pemkab Blitar.

Namun demikian, warga dengan terpaksa bersabar karena hanya bisa menunggu janji yang tiada pasti. Padahal, kerusakan jalan desanya, yang sudah parah itu karena memang sudah lama tak ada perbaikan, juga diperparah dengan truk yang mengangkut pasir.

"Dulu, tak separah sekarang ketika belum jadi jalur truk pasir. Namun, begitu para sopir truk pengangkut pasir yang mengambil pasir dari Kali Lahar (Kecamatan Nglegok), untuk dibawa ke Tulungagung itu lewat desa kami, kerusakan jalan desa kami sudah tak bisa dipilih karena di mana-mana berlubang," paparnya.

Saking banyaknya lubang sehingga setiap kali habis hujan seperti sekarang ini, lanjutnya, terlihat seprti kolam. Sebab, air hujan itu menggenang di kubangan itu dan jadi kolam lumpur yang membahyakan jika dilewati sepeda motor karena banyak yang jatuh terjerembab.

Baca juga: Temukan Jalan Rusak dan Berlubang di Trenggalek? Kamu Bisa Lapor ke Nomor Ini

Tak kecuali, oleh anak-anak di desa itu, setiap hujan turun itu dijadikan wahana bermain yang mengasyikan meski bermandi lumpur.

"Kalau tak hujan, jalan itu juga sulit dilewati karena sulit dipilih akibat di mana-mana banyak lubang. Namun, kalau musim hujan begini juga lebih sulit lagi kalau nggak terbiasa lewat di situ. Sebab, lubang jalannya rata-rata cukup dalam, akibat dilewati truk pasir yang terus-menerus sehingga kian memperluas mengeluasnya sisa-sisa aspal," ungkapnya.

Menanggapi protes warga dengan menyindir seperti itu, M Hamdan, Kabid Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Pemkab Blitar dengan datar mengatakan, itu sudah diprioritaskan perbaikannya namun dirinya lupa berapa anggarannya.

"Kami nggak hafal berapa anggarannya namun itu sudah masuk usulan perbaikan tahun ini," ujarnya.


Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved