Sasar Para Guru, Institut Leimena Dorong Penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Penerapan literasi keagamaan lintas budaya (LKLB) di lingkungan sekolah terus didorong agar dilakukan secara optimal melalui peran guru.
Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Ndaru Wijayanto
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Penerapan literasi keagamaan lintas budaya (LKLB) di lingkungan sekolah terus didorong agar dilakukan secara optimal melalui peran guru.
Hal ini ditegaskan penting untuk terus menguatkan sikap toleransi di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Penegasan ini mengemuka dalam Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang diadakan Institut Leimena dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta di Hotel Santika Pandegiling Kota Surabaya, Jumat (31/1/2024).
Kegiatan ini diikuti 35 guru dengan latar belakang agama Islam, Kristen, Buddha dan Hindu dari kawasan Surabaya dan sekitarnya.
"Toleransi tidak bisa hanya sebatas pengetahuan tapi harus mengalami langsung lewat interaksi dengan mereka yang berbeda agama. Program LKLB memungkinkan hal itu, misalnya, guru Muslim bisa bertanya apa saja tentang agama Kristen kepada pendeta, sebaliknya guru Kristen juga bisa bertanya langsung kepada ustaz," kata Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata disela acara.
Workshop di Surabaya ini, menjadi kali kesekian yang digelar oleh Institut Leimena. Dalam kurun tiga tahun sejak 2021, program LKLB telah melatih 9.258 guru dan pendidik lainnya, termasuk penyuluh agama, yang seluruhnya tersebar di 37 provinsi di Indonesia.
Daniel menjelaskan, pihaknya memang sengaja menyasar para guru untuk diberikan pembelakan mengenai LKLB. Sebab, guru berperan besar membentuk para siswa.
Selain Surabaya, Daniel mengatakan bahwa program LKLB telah menjangkau guru atau pendidik dari seluruh provinsi di Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Program LKLB terdiri dari dua tahap yaitu pelatihan secara daring yang telah dilaksanakan dalam 61 kelas, selanjutnya workshop secara tatap muka yang telah berlangsung 18 kali di sejumlah kota di Indonesia.
Dalam workshop di Surabaya ini, para guru yang menjadi peserta akan mendapat sejumlah materi selama beberapa hari. Termasuk juga akan mendapat kesempatan berdialog secara langsung dengan pemuka agama lewat acara kunjungan ke rumah ibadah.
Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Inayah Rohmaniyah turut hadir dalam workshop di Surabaya.
Prof Inayah merupakan satu tokoh yang bermitra dengan Institut Leimena untuk mengembangkan modul workshop LKLB.
Dalam kesempatan itu, dia mengatakan program LKLB bertujuan membekali guru dengan kompetensi dan keterampilan konkret untuk berpikir kritis, termasuk dalam pengajaran agama di sekolah yang lebih mengedepankan indoktrinasi.
"Sepulang dari workshop ini, para guru sudah membawa RPP atau program yang bisa langsung mereka terapkan di sekolah. Ini diharapkan menjadi gerakan masif, bola salju yang kita harapkan bisa membawa perubahan ke depannya," terang Inayah
Institut Leimena
UIN Sunan Kalijaga
jatim.tribunnews.com
Tribun Jatim Network
literasi keagamaan lintas budaya
LKLB
Pembelajaran Sekolah di Surabaya Diberlakukan Daring dari 1-4 September, Situasi Belum Kondusif |
![]() |
---|
4 Artefak Bernilai Sejarah Dilaporkan Hilang Dijarah saat Kantor DPRD Kabupaten Kediri Dibakar |
![]() |
---|
Aksi Damai Mahasiswa di Sampang Madura Sempat Memanas, Jalan Diblokade |
![]() |
---|
PWNU Jatim Ajak Masyarakat Jaga Ketertiban, Minta Pemerintah dan DPR Terbuka Menerima Aspirasi |
![]() |
---|
Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang Gelar Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.