Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Viral

Alasan Dedi Mulyadi Tak Mau Urus Persikas, Bikin Suporter Ngakak: Ngurus Istri Aja Belum Bisa

Para suporter Persikas menggelar unjuk rasa dalam acara Nganjang Ka Rakyat di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang.

Editor: Torik Aqua
Instagram @dedimulyadi71
JAWABAN - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dengan para suporter Persikas Subang di pendopo kediaman Dedi Mulyadi di Subang, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi mendengar sekaligus menjawab permintaan mereka untuk menjadi donatur Persikas Subang agar tidak diakuisisi. 

TRIBUNJATIM.COM - Akhir perseteruan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dengan suporter Persikas Subang yang sempat viral di media sosial.

Sebelumnya, para suporter Persikas Subang itu membentangkan spanduk untuk menyelamatkan klub sepak bola kebanggaan mereka.

Kini suporter bertemu di pendopo kediaman Dedi Mulyadi di Subang, Jawa Barat.

Momen pertemuan Dedi Mulyadi dengan para suporter itu diabadikan melalui Instagram @dedimulyadi71 pada  Jumat (30/5/2025).

Baca juga: Survei Kinerja Gubernur di Jawa, Dedi Mulyadi Teratas Ungguli Khofifah dan Pramono Anung

Dalam video yang diunggahnya, Dedi Mulyadi awalnya memperkenalkan para pemuda yang berdiri di belakangnya.

Dirinya menyebutkan mereka adalah para suporter Persikas yang menggelar unjuk rasa dalam acara Nganjang Ka Rakyat di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang pada Rabu (28/5/2025) malam.

"Ini para supporter Persikas yang teriak yelnya salah tempat, dan salah alamat, urusan Persikas mah urusan bupati itu mah, bukan urusan gubernur, bupati kan juga punya duit, nggak boleh bantu klub professional dengan menggunakan uang negara, nggak boleh.

"Sok, mau bicara apa kamu?" tanya Dedi Mulyadi kepada satu di antara sejumlah supporter Persikas yang hadir di pendopo rumahnya.

"Kepada Pak Bupati, kita dukung bareng-bareng pak," ungkap salah satu supporter.

"Ayo ngomong sok kamu ke Pak Rey," ujar Dedi Mulyadi menegaskan.

Didesak Dedi Mulyadi, para suporter pun mengutarakan harapan mereka.

"Pak kita Bersatu dengan suporter dan manajemen, jadi mengenai sepak bola harapan besar Sebagian besar warga Subang menanti Persikas sekaliber di Liga 2 dan kita ada lah hiburan sepak bola untuk tanah kita sendiri pak," ujar salah satu supporter.

"Harapannya ya, ayo kita bareng-bareng pak, semuanya juga saking cintanya juga pak, sampai-sampai harus ketemu hal yang salah dulu gitu," ujarnya lagi.

"Semoga hal-hal ini dimaklumi, dimaafkan," tambahnya.

Mendengar pernyataan para suporter, Dedi Mulyadi pun menggoda.

"Jadi kamu mau ngedemo gubernur atau ngedemo bupati?" sanggah Dedi Mulyadi.

"Pak bupati pak," jawab para supporter sembari tersenyum.

"Yang keras dong kalian," balas Dedi Mulyadi.

"Mau mendemo siapa kalian?" tanya Dedi Mulyadi lagi.

"Pak bupati!" teriak para supporter.

"Kenapa kalian demo bupati ngomong di depan saya?" ujar Dedi Mulyadi.

Menjawab pertanyaan Dedi Mulyadi, mereka pun jujur.

Para suporter Persikas katanya tidak bermaksud mendemo Dedi Mulyadi.

Mereka hanya berharap keinginan mereka didengar oleh Bupati Subang, Reynaldi Putra Andita.

"Intinya gini pak, kami kesini mau minta maaf ke bapak gitu kan. Terus keduanya semoga Pak Bupati mendengar supaya Persikas tidak diakuisisi oleh daerah lain," tambahnya.

"Ya jadi gini, Persikas itu walaupun diakuisisi oleh daerah lain karena kemampuan keuangan. Sekarang pertanyaannya di Subang ada nggak orang yang mau mengeluarkan uang puluhan miliar untuk urus bola? ada?" tanya Dedi Mulyadi.

"Insya Allah pak, doakan saja," balas para Supporter.

"Ya terus sekarang siapa di Subang, Pengusaha yang mau urus bola?" tanya Dedi Mulyadi lagi.

"Nanti dicari pak," balas para supporter lagi.

"Oh ya sudah cari sendiri, ke sana yang punya," balas Dedi Mulyadi.

"Ke bapak saja pak," celetuk salah satu suporter.

"Oh nggak mau saya, jangankan urus bola, ngurus istri aja belum bisa," celoteh Dedi Mulyadi disambut tawa para suporter.

Terakhir, para suporter menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh warga Subang atas kekisruhan terjadi.

"Maafkan semuanya, kami dari Aliansi Suporter Persikas meminta maaf kepada panitia ataupun pemerintah setempat atas hal-hal yang tidak betul," ujar salah satu suporter minta maaf.

Pernyataan itu pun ditanggapi Dedi Mulyadi.

"Ya bukan bikin gaduh, orang lagi nangis ini bikin yel-yel," uajr Dedi Mulyadi kembali disambut tawa.

"Pesan saya tidak boleh melibatkan, karena di belakang saya banyak anak-anak di bawah umur yang statusnya masih pelajar dilibatkan dalam kegiatan orang dewasa, menggunakan kendaraan bermotor, dimobilisasi malam hari itu nggak boleh," jelas Dedi Mulyadi.

"Karena itu bukan hak mereka untuk keluar malam hari," tambahnya.

"Nih yang dewasanya harus sadar ya," ujarnya di akhir video.

Dedi Mulyadi Marah Besar

Pemanggilan para suporter Persikas tersebut merujuk peristiwa yang terjadi dalam acara Nganjang Ka Rakyat di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Subang pada Rabu (28/5/2025) malam.

Suasana yang semula guyub itu berubah menjadi ricuh setelah sekelompok suporter sepakbola Persikas Subang yang membentangkan spanduk penolakan Persikas Subang dijual.

Sontak saja hal tersebut membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berdiri dari duduknya dan marah besar sambil menunjuk-nunjuk sejumlah pendukung Persikas.

"Hei, ini forum saya, bukan forum Persikas, ini forum saya dengan rakyat bukan dengan Persikas, anak muda gak punya otak kamu!" teriak Dedi Mulyadi di hadapan ribuan warga dan pejabat yang hadir.

"Saya tidak terima anda, saya cari kamu," lanjutnya.

Momen kemarahan Dedi Mulyadi tersebut bertepatan dengan sesi acara di atas panggung suasana sedih.

Suasana sempat hening saat Dedi Mulyadi berhenti bicara.

Dedi Mulyadi meminta, anak muda yang membentangkan spanduk tersebut untuk dicari dan spanduk itu segera diambil.

Dalam kemarahannya itu, Dedi Mulyadi menyatakan Persikas pindah kemanapun tidak mempengaruhi orang miskin untuk makan.

"Orang Subang bukan butuh Persikas hari ini, orang Subang butuh jalan yang baik, butuh sekolah yang baik," kata Dedi Mulyadi.

Dalam persepakbolaan untuk menjadi Liga 1 dan Liga 2, lanjut Dedi Mulyadi, memerlukan biaya besar.

"Tidak bisa Pemda Subang mengurus main bola, duitnya nggak cukup," kata dia.

Alasan Dedi Mulyadi Marah Besar

Setelah videonya marah viral di media sosial, Dedi Mulyadi pun menyampaikan klarifikasinya lewat Instagram miliknya @dedimulyadi71 pada Jumat (30/5/2025) pagi.

Dalam video itu, Dedi terlihat olahraga pagi dengan berjalan kaki di area sawah sekitar rumahnya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.

Politisi Partai Gerindra ini menegaskan, bahwa Persikas sudah menjadi klub profesional yang dikelola secara independen oleh sebuah perusahaan.

Kata dia, perusahaan itu tentu akan mempertimbangkan segala aspek keuangan dalam mengelola klub tersebut.

Lantaran dikelola secara profesional, Dedi merasa pemerintah daerah tidak bisa mencampuri pengelolaannya.

Apabila pemerintah ingin memberikan dukungan maka dalam bentuk sarana dan prasarana saja.

"Andaikata pun memberikan bantuan, bantuannya harus bersifat pribadi tidak boleh menggunakan keuangan negara," ucapnya.

Dedi juga menyoroti soal para suporter tersebut yang berusia masih remaja.

Mantan Bupati Purwakarta ini menyebut, para remaja itu datang dari Kabupaten Subang dan diduga sudah terkoordinir dengan baik.

"Anak-anak itu tidak mandiri, mereka berkumpul dari berbagai tempat dengan jarak yang sangat jauh ada yang satu desa, ada yang satu kecamatan ada yang berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten Subang sehingga mereka terkoordinasi dengan baik membentangkan spanduk yang direncanakan dengan baik," ungkap Dedi.

Bahkan, lanjut Dedi, di antara mereka masih ada yang berstatus pelajar SMP sehingga dia menyesalkan kejadian tersebut.

"Kenapa saya sesalkan, karena kekuatan politik di balik ini adalah kekuatan politik yang menggunakan sepakbola sebagai bagian dari kekuatan politik, untuk itu enggak boleh mempolitisi praktis menggunakan sepakbola sebagai kekuatan politik, 

"Apalagi mempolitisi anak-anak kecil yang usia masih remaja, malam-malam menggunakan kendaraan bermotor dengan jarak yang sangat jauh, ini sangat berbahaya," lanjut Dedi.

Dia juga menduga, sebagian anak-anak tersebut ada yang menenggak minuman keras (miras) terlebih dahulu sebelum beraksi.

Dedi meminta, kepada pihak yang mempolitisasi anak-anak dalam masalah ini untuk menghentikan perbuatannya, dan mengajak mereka agar bersikap profesional.

"Politik ya politik, olahraga ya olahraga, jangan campurbaurkan antara politik dan olahraga," pungkasnya.

Dedi Mulyadi Tak Peduli Citranya Buruk

Dedi Mulyadi tak ambil pusing dengan videonya yang memarahi suporter Persikas Subang viral di media sosial.

Mantan Bupati Purwakarta ini juga tak khawatir citranya akan buruk di mata publik sebagai seorang pemimpin karena marah-marah di media sosial.

"Persoalan kemudian banyak kamera yang menyorot kemudian menjadi gorengan politik membuat citra buruk enggak ada masalah bagi saya," ujar Dedi yang dikutip dari akun Instagram miliknya @dedimulyadi71 pada Jumat (30/5/2025).
 
Dedi mengaku, tidak mengejar citra positif di mata masyarakat sebagai kepala daerah.

Justru, kata dia, Dedi harus bekerja demi kepentingan masyarakat Jawa Barat.

"Saya bukan mencari citra, saya hidup ini bekerja untuk kepentingan rakyat, hidup ini juga untuk memperbaiki sikap mental warga saya yang tidak bisa menempatkan diri dengan baik apalagi usianya masih remaja," jelas Dedi.

Karena itu, apa yang dilakukannya dengan memarahi suporter sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakatnya.

Terutama, lanjut dia, kepada para remaja yang masih menjadi warganya, terlebih banyak anak-anak yang kehilangan ayahnya dan tidak mampu mendidik anaknya dengan baik.

"Pada akhirnya pemerintah harus turun untuk membenahi mereka salah satunya kemarin dengan membawa mereka ke barak militer dan sudah banyak yang mengalami perubahan," pungkasnya.

 

Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved