Beruntung, saat itu tidak ada korban. Sedangkan kejadian di Malang, korban berjatuhan meski bukan karena dampak kerusuhan, melainkan kepanikan yang terjadi ketika petugas menembakkan gas air mata di tribun penonton.
“Permasalahan sepakbola kita dari tahun ke tahun tentang suporter belum banyak perubahan. Suporter belum bisa menahan diri jika timnya kalah di kandang," ungkap Hanafing, Minggu (2/10/2022).
Ia menyebut pendidikan dan pengetahuan tentang dukungan ke tim dari suporter harus lebih ditingkatkan pemahamannya.
"Bahwa permainan itu ada Menang, Seri dan Kalah. Nah, jika tim kalah di kandang, ya legowo menerima, meski itu pahit dan sedih dirasakan,” tambah Hanafing.
Cara mengkritisi, suporter hanya fokus pada kerja tim atau manajemen, bukan melakukan tindakan kekerasan atau pengerusakan fasilitas publik.
“Supporter hanya perlu mengkritisi kerja tim atau manajemen,” tegas mantan pemain Niac Mitra itu.
Nasi sudah menjadi bubur, akibat dahsyatnya kejadian ini dimana menjadi yang terburuk kedua di sepak bola dunia setelah kejadian di Nepal pada tahun 1964 lalu berdasarkan korban jiwa, Indonesia terancam mendapat sanksi dari FIFA.
Ia berharap federasi bisa meyakinkan FIFA agar tidak memberi sanksi berat pada Indonesia.
Apalagi Indonesia sedang mempersiapkan diri berbagai kegiatan kejuaraan sepak bola internasional, salah satunya Piala Dunia U-20 tahun 2023 mendatang.
“Semoga petinggi PSSI bisa mempengaruhi FIFA, karena kita sudah mempersiapkan sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20. Jika merujuk sanksi FIFA, maka PSSI bisa kena sanksi tidak bisa bermain di tingkat Internasional selama 5 tahun,” jelasnya.
“Karena yang kisruh dan banyak korban meninggal kemarin malam bukan dari pertandingan, tapi suporter yang masuk ke lapangan dan akibat gas air mata, sehingga banyak yang meninggal akibat sesak napas dan terinjak akibat penonton berlari menyelamatkan diri,” pungkas Hanafing