TRIBUNJATIM.COM - Muncul kesaksian tukang jamu tentang satu keluarga yang tewas di Kalideres, Jakarta Barat.
Tukang jamu berinisial R itu mengaku ada seorang keluarga itu pernah akan utang ke tukang jamu.
Si tukang jamu mengaku kaget bahwa empat orang di keluarga itu telah tewas.
Awalnya, ia mengatakan satu keluarga tewas di Jakarta Barat, tepatnya di Perumahan Citra Garden Satu Extension, Kalideres, adalah langganannya.
Ia kaget saat diberitahu pedagang rokok di sekitar lokasi bahwa satu keluarga yang tinggal di rumah AC5/7 ditemukan tewas.
"Saya awalnya diceritain tukang rokok, Mbak kan sering ke extension. Tahu dong ada orang meninggal empat orang. Saya bilang, siapa? Itu blok AC5 nomor 7. Lah itu mah langganan saya," katanya saat ditemui di kawasan perumahan Citra Garden Satu Extension pada Selasa (15/11/2022).
Biasanya, R sering bersepeda memasuki kompleks perumahan tersebut untuk mengantarkan jamu ke rumah korban.
Baca juga: Pesan Terakhir Keluarga yang Tewas di Kalideres ke Warga Aneh, Gak Usah, 2 Bulan Kemudian Membusuk
Pemilik rumah memesan jamu tak setiap hari.
Terkadang sebulan sekali atau dua minggu baru memesan.
"Dia (Dian) minta nomor telepon karena dia males jalan ke sini mungkin. Jadi saya suruh nganter ke sana," ujarnya.
Semenjak pandemi Covid-19, mereka tak lagi memesan jamu kepada R.
"Semenjak corona enggak pernah mesen jamu lagi sama saya," katanya.
Namun, R sempat melihat ayah dan anak dari rumah itu, Dian Febbyana (42) dan Rudyanto Gunawan (71) keluar berjalan kaki.
Padahal, R biasanya jarang melihat mereka berjalan kaki.
"Biasanya dia keluar itu enggak pernah jalan. Dia selalu bawa mobil atau enggak motor. Baru kali itu lihat dia jalan. Dian sama bapaknya," tambahnya, dikutip TribunJatim.com dari TribunJakarta.
Baca juga: Tak Hanya Kaki Dibungkus Plastik, Tetangga Ungkap 3 Kejanggalan Lain 1 Keluarga Tewas di Kalideres
R mengatakan salah satu keluarga di rumah itu pernah meminjam uang kepadanya saat pandemi Covid-19.
"Katanya, 'Mbak, aku minta tolong dong, minjem uang Rp 50 juta.' Waduh kata saya, duit segitu mana punya saya Bu. Saya ini tukang jamu. 'Kali kerabat Mbak punya.'"
"Saya enggak punya saya enggak berani ngomong-ngomong sama saudara saya minjem duit segitu. Buat apa emang bu? "Buat operasi saudara saya"," cerita R menirukan percakapannya dengan salah satu keluarga.
Diketahui, satu keluarga di kompleks Citra Garden 1 Extension, Kalideres, Jakarta Barat, ditemukan tak bernyawa pada Kamis (10/11/2022) malam.
Para korban bernama Rudyanto Gunawan (71), K Margaretha Gunawan (68), Dian Febbyana (42) dan Budyanto Gunawan (69).
Polisi mengatakan penyebab kematian satu keluarga itu masih misterius.
Namun, Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala membeberkan dua teori terkait kasus ini.
Adrianus membeberkan teori yang pertama yakni korban bisa saja meninggal bukan karena kelaparan tapi sengaja dilaparkan oleh seseorang.
Baca juga: Cerita Tamu Terakhir Keluarga di Kalideres, Bau Busuk Sejak Februari 2022, Kuak Perubahan: Tertutup
Ada kemungkinan satu atau dua orang dari korban yang sengaja ditutup aksesnya untuk makan.
Hingga akhirnya korban harus meninggal dunia karena tidak bisa makan akibat penutupan akses ke makanan tersebut.
"Teori pertama adalah mereka bukan kelaparan, tapi dilaparkan. Artinya ada mungkin ada dua orang yang sengaja ditutup aksesnya untuk kemudian tidak makan hingga mati," kata Adrianus dalam tayangan video di kanal YouTube Kompas TV, Senin (14/11/2022).
Adrianus menuturkan penutupan akses keluar rumah, ditutupnya jendela dan seluruh ventilasi yang ada di rumah membuat bau jenazah tidak tercium keluar.
Hal tersebut bisa saja sudah dipersiapkan oleh seseorang, sehingga untuk menyamarkan keberadaan jenazah di dalam rumah tersebut.
"Nah untuk itu maka untuk membuat bau tidak kemana-mana, sebelum yang ketiga-keempat mati, sehingga dipakailah itu tadi," imbuhnya.
Teori kedua, Adrianus mengatakan yakni adanya suatu keyakinan bersama terkait hidup setelah mati atau bisa saja dari keempat anggota keluarga tersebut, terdapat satu dua orang yang tidak setuju.
Namun orang yang tidak setuju tersebut dipaksa untuk ikut mati bersama.
"Teori kedua, bahwa ada suatu keyakinan bersama yang mereka yakini mengenai hidup setelah mati itu. Mungkin sekali misalnya dari keempat orang itu, satu dua orang tidak meyakini kemudian dipaksa mati bersama," terang Adrianus.
Baca juga: Kelakuan Tak Lazim Sekeluarga yang Tewas di Kalideres, Warga Cium Bau Busuk dari Maret: Kirain Tikus