Miris mendapati kenyataan itu, perekam mencoba mengajak ngobrol Aming.
Perekam penasaran alat apa saja yang digunakan Aming untuk mematri tersebut.
Dengan senang hati, Aming pun memperlihatkan alat pencari nafkahnya tersebut.
“Ini ada pemanasnya bubat solder-nya nanti,” paparnya.
Baca juga: Lasmiati Jualan Nasi Goreng Rp4000 Seporsi, Beri Harga Murah Biar Pembeli Kenyang Meski Uang Sedikit
Ternyata Aming menjalani profesinya sebagai tukang patri itu sudah 20 tahun.
Aming mengaku masih bertahan karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa diandalkannya.
Mematri adalah keahlian yang bisa dia tawarkan.
Selain itu, Aming tak bisa berlaih pekerjaan karena sulitnya mencari pekerjaan terlebih usianya yang semakin tua.
“Bapaknya bertahan sebagai tukang patri karena gak ada lagi pekerjaan,” tulis pengunggah.
Pilunya ternyata Aming baru saja ditinggalkan istrinya.
Sang istri baru saja meninggal karena sakit di bulan lalu.
Namun Aming tetap harus melanjutkan hidup dan masih berjuang mencari nafkah lewat keahliannya tersebut.
Meski pendapatannya dalam sehari tak menentu dan tak seberapa.
Aming mengaku pendapatannya per hari hanya Rp 30 ribu itu pun jika sedang ramai peminat.
Aming memasang tarif satu barang untuk dipatri hanya Rp 10 ribu.