Berita Viral

Siswa SMK Mau Tobat Datangi Dedi Mulyadi, Memohon Masuk Barak Militer, Didukung Ayah: Kami Titip

Editor: Hefty Suud
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BARAK MILITER - Dedi Mulyadi saat diwawancarai di Gedung DPRD Kota Sukabumi, Kamis (10/4/2025). Sang Gubernur Jawa Barat baru-baru ini didatangi siswa SMK dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan yang mau masuk barak militer.

TRIBUNJATIM.COM - Sosok Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kini ditakuti anak-anak karena program barak militer. 

Melalui program tersebut, Dedi Mulyadi membina anak-anak dan/atau siswa nakal dengan pendekatan militer. 

Namun baru-baru ini ada seorang siswa SMK dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan (Sumsel) malah minta masuk ke barak militer. 

Diantar ayahnya, anak baru gede (ABG) ini mengaku mau masuk barak militer karena ingin tobat. 

Menurut pengakuan si ABG, selama ini ia kecanduan barang haram, narkoba. 

Menempuh perjalanan 15 jam, ia mendatangi rumah dinas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Pakuan, Kota Bandung.

Bastian Hidayat, ayah si ABG mengungkapkan bahwa putranya yang masih duduk di bangku kelas 10 SMK jurusan teknik perbengkelan itu sudah kecanduan barang terlarang.

Awalnya, Bastian mengaku mendapat usulan dari salah seorang yang mengaku orang dari Dedi Mulyadi yang berada di Bandung.

"Saya minta maaf ya pak ya, saya kemarin kan ada yang mengusulkan juga dari daerah Bandung juga pak, katanya dari orang bapak lah, saya dari Bandung kemudian ke Subang, disuruh untuk rehab," ujar Bastian, dilansir dari kanal Youtubenya Kang Dedi Mulyadi Channel, Kamis, (29/5/2025). 

Hingga akhirnya, Bastian mengajak putranya bersama sang istri bertemu langsung Dedi Mulyadi untuk meminta bantuan pelatihan untuk sang anak.

Dedi Mulyadi kemudian langsung bertanya kepada anak bapak tersebut.

"Kenapa kamu ini," tanya Dedi Mulyadi, 

Saat ditanya lebih lanjut oleh Dedi Mulyadi, pelajar tersebut mengakui bahwa ia sempat mengonsumsi zat adiktif jenis sabu bersama teman-temannya. 

Baca juga: Beda Cara Eri Cahyadi & Dedi Mulyadi Bina Anak Nakal, Jabar Ada Barak Militer, Surabaya Buka Asrama

"Udah sering (pakai)?," tanya Dedi.

"Udah pak dari kelas satu (SMK)," kata anak tersebut. 

Uang untuk membeli barang terlarang itu ia dapatkan dari uang saku Rp25 ribu dari kedua orang tuanya. 

"Dikasih 25 ribu, tapi bohongin orang tua," kata sang anak. 

"Bohongnya gimana," tanya Dedi Mulyadi. 

"Untuk tugas sekolah, dapat tambahan duit 50 ribu," ujar sang anak. 

Dalam sekali penggunaan, ia bisa menghabiskan dana hingga Rp100 ribu untuk 1,5 gram sabu. 

Kepada Dedi Mulyadi, ia mengaku sudah satu minggu tidak mengonsumsi barang terlarang tersebut. 

"Perasaannya seminggu gak pakai gimana?" Ujar Dedi. 

"Lebih tenang," ucap singkat sang anak. 

Meski sudah satu minggu berhenti, sang anak mengaku masih tergantungan dengan lingkungannya. 

Baca juga: Kisah Fajril di Barak Militer Program Dedi Mulyadi, Diceburkan ke Kolam Imbas Rokok, Kini Lebih Baik

"Gak mau balik, mau tinggal di sini aja tak masukkan ke barak, setuju?” tanya Dedi.  

“Setuju, saya ingin sembuh,” jawab sang anak. 

Dedi Mulyadi, sempat bertanya kepada kedua orang tuanya apakah diizinkan, mengingat kebijakannya belakangan dinilai melanggar HAM.

Namun, kedua orang tuanya ingin agar anaknya masuk barak sehingga bisa hidup normal kembali. 

"Karena lingkungan saya ini kurang sehat pak, maaf ya pak insyaallah bisa sembuh," ujar ayahnya. 

"Nanti kabur dari barak nanti hilang, nanti buat surat pernyataan kalau kamu kabur dari sana menjadi tanggung jawab kamu sendiri sama orang tuamu, jangan salahin saya," kata Dedi Mulyadi. 

Sang ayah, bahkan menyatakan siap menandatangani surat pernyataan resmi dan bertanggung jawab penuh jika anaknya kabur atau melakukan pelanggaran selama proses pelatihan.  

BARAK MILITER - Momen ketika Dedi Mulyadi melepas siswa keluar dari barak militer. (KOLASE Istimewa via Tribun Medan )

“Kami datang ke sini dengan penuh kesadaran. Kami titipkan anak kami secara sukarela,” tegas BH. 

Diketahui, pelajar tersebut merupakan anak dari ibu seorang guru SD di Kayu Agung dan ayahnya pengantar emas dari toko ke toko. 

Sebagai seorang ibu sekaligus guru, ibu mengaku sedih memihat kondisi putranya terlibat barang terlarang. 

Kang Dedi Mulyadi juga sempat heran, karena ibu dari si anak ini adalah seorang guru sekolah dasar dan memiliki anak seorang tentara. 

"Kakak kamu malah tentara dan ASN, kamu kok malah Narkoba gimana ini?,” tegas KDM kepada sang anak. 

Dedi Mulyadi sendiri terbuka untuk menerima aduan dari para orang tua yang bertujuan memasukan anaknya ke barak militer.

Mantan Bupati Purwakarta itu mengungkapkan bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari tanggung jawab moral dan tugas negara.  

Baca juga: Bupati Gadaikan SK Demi Belikan Tanah Orangtua Siswa yang Masuk Barak Militer, Rp 100 Ribu Per Meter

"Saya menjalankan tugas juga dari presiden untuk menjaga anak-anak Indonesia dari korban narkoba," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. 

Program ini merupakan bagian dari pendidikan berkarakter yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membina remaja dengan perilaku bermasalah.

Banyak publik yang mendukung kebijakan yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi itu.

Walau kebijakan ini menuai reaksi positif di masyarakat, ada juga beberapa daerah enggan ingin meniru kebijakan tersebut.

Dedi Mulyadi menyebut bahwa program ini tidak ada unsur paksaan dalam pelaksanaannya.

Menurutnya, para orang tua secara sukarela menyerahkan anaknya kepada Dinas Pendidikan untuk kemudian dikirim ke barak militer.

Respon Sekolah

BARAK MILITER - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat mengunjungi tempat pembinaan siswa bermasalah di barak militer di Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Batalyon Artileri Medan 9, Purwakarta, Jawa Barat, Senin (5/5/2025) pagi. (Dok Dedi Mulyadi)

Setelah siswa bersama orang tuanya itu menemui langsung Dedi Mulyadi di rumah dinas Pakuan, Bandung, kini pihak sekolah menjadi sororan.

Pasalnya, orang tua siswa tersebut sudah frustrasi dengan anaknya yang ketergantuan narkoba akibat pergaulan dengan teman-temannya.

Kepala sekolah tempat sang anak belajar, Anwar Sanusi mengatakan siswa tersebut kini berstatus masih kelas 10.

Namun, selama sekolah, anak dari seorang guru SD itu dikatakan jarang masuk, dikarenakan akibat terpengaruh faktor lingkungan.

"Memang benar itu orang tua siswa kami dan dia sudah sering dipanggil karena permasalahan anaknya yang jarang masuk sekolah dan juga sering tidak mengumpulkan tugas," terangnya ketika dikonfirmasi Tribunsumsel, pada Jum'at (30/5/2025) siang.

Anwar menyampaikan bahwa pihak sekolah memiliki fasilitas untuk pembinaan siswanya.

Namun, wali murid tersebut keburu mendatangi Gubernur Dedi Mulyadi meminta untuk pelatihan barak militer.

"Sebenarnya kalau orangtua ingin berkonsultasi dengan sekolah, kami siap memberikan pembinaan. Tapi rupanya sudah keburu datang ke Gubernur Jawa Barat membawa putranya untuk masuk barak militer," pungkasnya.

BBNK OKI Buka Suara

Setelah viral, Badan Nasional Narkotika Kabupaten (BNNK) OKI buka suara. 

 Kepala Badan Nasional Narkotika Kabupaten (BNNK) OKI, AKBP Gendi Marzanto mengatakan bahwa untuk pengobatan atau rehabilitasi pecandu narkoba tidak perlu jauh jauh keluar OKI dan prosedurnya sangat mudah.

Tinggal dibawa saja ke BNNK OKI di Kayuagung.

"Kami siap membantu pecandu narkoba secara gratis. Nanti kami assessment untuk menentukan tingkat ketergantungan dan metode rehabilitasi, apakah rawat jalan atau rawat inap," kata Gendi sewaktu dihubungi oleh  Tribunsumsel.com pada Jum'at (30/5/2025) siang.

Menurutnya, penanganan narkoba berbeda dengan kenakalan remaja biasa. Karna ada tahap perlakuan khusus yang harus diterapkan dalam proses rehabilitasinya.

"Seperti dilakukan detoksifikasi, treatment, terapi perorangan, terapi kelompok hingga konseling yang dinilai lebih efektif menangani seseorang yang terkontaminasi zat terlarang," ungkapnya.

Diakuinya, pendisiplinan anak-anak bermasalah bisa lewat barak militer, tapi untuk anak nakal yang sudah terjerumus memakai narkoba harus memerlukan treatment khusus.

"Pengguna narkoba yang secara sukarela mendaftar untuk dilakukan rehabilitasi ke BNN tidak akan dipidana. Tentu Ini sesuai dengan regulasi, di mana pemakai narkoba diwajibkan menjalani rehabilitasi. Bukan lagi hukuman pidana penjara dan biayanya gratis di tanggung oleh negara," terangnya.

Dikatakan Gendu sepanjang tahun 2024 terdapat 37 orang penyalahgunaan telah direhabilitasi dengan rincian 30 orang penyalah guna yang direhabilitasi rawat jalan. 

Sedangkan 7 orang penyalahguna yang direhabilitasi rawat inap atau rujukan ke balai rehabilitasi BNN.

"Kami memiliki asesor dan konselor yang sudah sertifikasi di klinik, bisa menentukan treatment mana yang tepat untuk diterapkan sesuai tingkat keparahan anak," urai dia.

Dikatakannya di bidang pencegahan, BNNK OKI telah melaksanakan advokasi melalui rakor, membangun jejaring, asistensi, intervensi, supervise, monev, bimtek, informasi dan edukasi.

"Kami juga melaksanakan sosialiasi ke sekolah tingkat SMA dan SMK di OKI, termasuk di desa, dinas, kelurahan dan kecamatan serta perusahan perkebunan," ucapnya.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com

Berita tentang Dedi Mulyadi lainnya

Berita Terkini