Bajunya masih lusuh, tangan berdebu, dan aroma keringat masih menempel di tubuhnya.
Ia menyambut tamu dengan senyum lelah, namun penuh kebanggaan.
Di dalam rumah, Suhaima baru selesai salat Ashar, masih mengenakan mukena.
Sehari-hari, ia mengurus rumah dan mengajar mengaji anak-anak tetangga.
Di sudut ruangan, seorang nenek duduk tenang di kursi roda.
Mereka tinggal berempat: ayah, ibu, Iqbal, dan nenek dari pihak ibu.
Tidak ada metode pengasuhan modern, tidak pula ada bimbingan belajar mahal.
Namun satu pesan selalu disampaikan Suhaima kepada anaknya.
“Ke mana pun Iqbal, saya selalu ingatkan untuk tidak pernah meninggalkan salat, termasuk saat dia di MAN IC,” ujarnya.
Penuh Rasa Ingin Tahu Sejak Kecil
Sebelum masuk TK, bahkan sebelum berusia lima tahun, Iqbal sudah bisa membaca dan mengaji.
Ibunya mengajarkan huruf demi huruf, ayat demi ayat, dengan penuh kesabaran.
Buku pertamanya bukan dongeng asing, melainkan kisah-kisah teladan para nabi.
“Cara-cara khusus itu nggak juga,” ucap Suhaima, merendah.
“Cuma anak ini memang daya ingin tahunya itu tinggi, dan dari kecil dia memang suka baca.”