Sejarah di Jatim

Sejarah Gresik dari Masa ke Masa, Awal Penyebaran Islam di Tanah Jawa

Sejarah Gresik berawal sebagai pelabuhan perdagangan, lalu menjadi pusat penyebaran Islam, dan kini tumbuh sebagai kota industri modern.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Dok. Dinas Lingkungan Hidup Gresik
SEJARAH GRESIK - Tugu pusat perkotaan Gresik sebagai simbol perjalanan panjang sejarah Kabupaten Gresik dari masa ke masa, Jumat (16/10/2020). 
Ringkasan Berita:
  • Sejak abad ke-11, Gresik menjadi bandar dagang penting di pesisir utara Jawa Timur.
  • Islam masuk lewat Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri, yang menjadikan Gresik pusat penyebaran agama dan pendidikan Islam.
  • Sebelum Islam, Gresik berada di bawah pengaruh Hindu-Buddha, mendukung Majapahit, kemudian menjadi pelabuhan strategis pada era kolonial.
  • Kini, Gresik dikenal sebagai Kota Wali dan pusat industri modern yang tetap relevan dari segi religius dan ekonomi.

 

TRIBUNJATIM.COM - Kabupaten Gresik memiliki sejarah panjang sebagai kota pesisir yang berperan penting dalam jalur perdagangan dan penyebaran agama di Nusantara.

Jejak kejayaannya bahkan telah tercatat sejak abad ke-11, ketika Gresik tumbuh sebagai bandar perdagangan yang ramai di pesisir utara Jawa Timur.

Menurut Thomas Stamford Raffles, nama Gresik diyakini berasal dari istilah Giri Gisik, yang berarti gunung di tepi pantai.

Penamaan ini merujuk pada kondisi geografis wilayah Gresik yang berada pada kawasan pesisir dengan perbukitan rendah di sekitarnya.

Dalam catatan masa kolonial, Gresik juga dikenal dengan sebutan Grisse atau Grissee.

Nama tersebut tercantum dalam peta dan dokumen pelayaran bangsa Eropa yang menjadikan Gresik sebagai salah satu pelabuhan penting di wilayah pesisir.

Baca juga: Sejarah Panjang Sidoarjo, Berawal dari Kerajaan Jenggala hingga Jadi Wilayah Penyangga Surabaya

Bandar Perdagangan dan Awal Masuknya Islam di Jawa

Sejak awal, Gresik dikenal sebagai bandar perdagangan internasional yang disinggahi pedagang dari berbagai negara, mulai Cina, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Campa, Bengali dan lain sebagainya.

Letaknya yang strategis di muara Bengawan Solo menjadikan Gresik sebagai simpul penting perdagangan antarpulau dan antarnegara.

Dalam catatan sejarah, nama Gresik sebagai bandar dagang mulai menonjol seiring berkembangnya agama Islam di Tanah Jawa.

Salah satu tokoh sentral tersebut adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim yang datang ke Gresik pada awal abad ke-11 bersama Fatimah Binti Maimun.

Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam melalui pendekatan sosial dan budaya.

Ia berbaur dengan masyarakat, berdagang secara jujur, membantu kaum miskin, serta mendirikan sarana pendidikan dan ibadah, sehingga ajaran Islam dapat diterima tanpa paksaan.

Selain Maulana Malik Ibrahim, sejarah Gresik juga tidak lepas dari peran Nyai Ageng Pinatih, seorang syahbandar perempuan yang berpengaruh.

Dari kisahnya pula lahir tokoh besar bernama Jaka Samudra, yang juga dikenal sebagai Sunan Giri.

Baca juga: Menelusuri Asal-Usul Surabaya, Kota Pahlawan yang Lahir dari Heroiknya Sejarah Perlawanan

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah saat berkunjung ke makam Syech Maulana Malik Ibrahim, Senin (8/3/2021).
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah saat berziarah ke makam Syech Maulana Malik Ibrahim, Senin (8/3/2021). (TribunJatim.com/Willy Abraham)

Pusat Penyebaran Islam

Sunan Giri atau Raden Paku kemudian mendirikan pusat pemerintahan dan keagamaan di Giri Kedaton.

Dari tempat itulah Gresik berkembang sebagai pusat penyebaran Islam sekaligus kekuatan politik di wilayah Jawa Timur dan Nusantara bagian timur.

Sunan Giri dikenal tidak hanya sebagai Wali, tetapi juga sebagai penguasa pemerintahan dengan gelar Prabu Satmata atau Sultan Ainul Yaqin.

Ia dinobatkan sebagai penguasa pada 9 Maret 1487 M, tanggal yang kemudian diperingati sebagai hari lahir Kota Gresik hingga saat ini.

Kepemimpinan Sunan Giri berlangsung selama sekitar 30 tahun dan dilanjutkan oleh keturunannya hingga hampir dua abad.

Masa tersebut menandai puncak kejayaan Gresik sebagai kota religius, pusat pendidikan Islam, dan pelabuhan dagang yang ramai.

Pada abad ke-17, jabatan bupati pertama Gresik dipegang Kyai Ngabehi Tumenggung Poesponegoro. Makamnya kini berada satu kompleks dengan makam Maulana Malik Ibrahim di kawasan Kota Gresik.

Baca juga: Napak Tilas Asal Usul Sejarah Mojokerto, Tanah Awal Kejayaan Majapahit yang Menguasai Nusantara

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani di makam Sunan Giri saat menjalankan tradisi Malem Selawe
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menabur bunga di makam Sunan Giri saat menjalankan tradisi Malem Selawe di Bulan Ramadan (TribunJatim.com/Willy Abraham)

Hindu-Buddha Hingga Era Kolonial

Sebelum Islam berkembang, wilayah Gresik berada di bawah pengaruh Hindu-Buddha, terutama pada masa Kerajaan Majapahit.

Dalam prasasti Karang Bogem tahun 1387 M, nama Gresik disebut sebagai kawasan yang memiliki aktivitas ekonomi, khususnya perikanan dan tambak.

Hal ini menandakan Gresik telah berperan sebagai wilayah pendukung penting Majapahit, terutama di jalur pesisir utara Jawa.

Bukti arkeologis berupa prasasti, arca, dan gerabah ditemukan di kawasan pesisir hingga pedalaman, termasuk di wilayah Pulau Bawean.

Memasuki era kolonial, Gresik kembali memainkan peran strategis sebagai pelabuhan dagang.

Bangsa Portugis sempat singgah pada awal abad ke-16, disusul Belanda yang kemudian menjadikan Gresik sebagai basis perdagangan VOC sejak awal 1600-an.

Berbagai peninggalan kolonial masih dapat dijumpai hingga kini, seperti Benteng Lodewijk di muara Bengawan Solo dan Gardu Suling di kawasan kota lama.

Bangunan-bangunan ini menjadi saksi peran Gresik dalam pertahanan dan perdagangan masa kolonial.

Baca juga: Asal-usul Soto Lamongan Soto Ayam Khas Jawa Timur yang Melegenda, Resep dan Cara Membuatnya di Rumah

Gresik Masa Kini

Pasca-kemerdekaan, Gresik semula berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Surabaya.

Status tersebut menimbulkan perbedaan antara nama kabupaten dengan ibu kotanya, karena kabupaten diberikan nama Surabaya sementara pusat pemerintahannya berada di Gresik.

Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1974, status tersebut berubah dan secara resmi ditetapkan sebagai Kabupaten Gresik dengan pusat pemerintahan di Kota Gresik.

Kini, Gresik dikenal dengan berbagai julukan, mulai dari Kota Wali, Kota Santri, hingga Kota Industri.

Keberadaan makam Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim memperkuat identitas religius, sementara tumbuhnya kawasan industri modern menjadikan Gresik sebagai salah satu pusat ekonomi Jawa Timur.

Sebagai bagian dari kawasan strategis Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), Gresik terus berkembang di sektor industri, maritim, perdagangan, pendidikan, dan pariwisata.

Perpaduan sejarah panjang dan perkembangan modern inilah yang menjadikan Gresik tetap relevan hingga masa kini.

 

Artikel ini ditulis oleh Ayesha Naila Tsabita, peserta Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka di TribunJatim.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved