Breaking News

Temuan Ecoton: Udara di Jombang Mengandung Mikroplastik

Hasil pemantauan lingkungan terbaru menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran mikro masih ditemukan di sejumlah kawasan

Tayang:
Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Ndaru Wijayanto
Istimewa/Ecoton
MIKROPLASTIK - Peserta didik di MA MTs Al Hikam Jatirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur saat melakukan penelitian udara mengandung Mikroplastik pada Senin (19/1/2026). Pengingat untuk pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat pengelolaan limbah dan membatasi penggunaan plastik. 

 

Ringkasan Berita:
  • Pemantauan Ecoton menemukan mikroplastik di udara Kabupaten Jombang, dengan jenis fiber dari serat sintetis sebagai temuan paling dominan.
  • Sampel diambil di tiga lokasi, dengan jumlah partikel tertinggi ditemukan di Jatirejo, Cukir, yang diduga kuat dipengaruhi limbah domestik.
  • Peneliti menegaskan mikroplastik berpotensi masuk rantai makanan dan membahayakan kesehatan manusia dalam jangka panjang.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Hasil pemantauan lingkungan terbaru menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran mikro masih ditemukan di sejumlah kawasan, dengan jenis serat sintetis (fiber) menjadi temuan yang paling banyak dijumpai.

Hasil temuan tersebut dipaparkan dalam kegiatan edukasi lingkungan yang digelar di MA MTs Al Hikam Jatirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang pada Senin (19/1/2026).

Pengambilan sampel dilakukan di tiga titik yang merepresentasikan kawasan perkotaan dan permukiman, yakni di lokasi depan Polres Jombang, area depan Lapas Jombang, serta wilayah Jatirejo, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Dari ketiga lokasi tersebut, Jatirejo tercatat sebagai titik dengan jumlah partikel mikroplastik tertinggi.

Di kawasan depan Polres Jombang, tepatnya di Jalan KH. Wahid Hasyim, peneliti mendapati 13 partikel mikroplastik yang seluruhnya berupa fiber. Tidak ada indikasi keberadaan plastik jenis lembaran tipis (film) maupun pecahan keras (fragmen) di lokasi ini.

Sementara itu, di depan Lapas Jombang, yang juga masih berada di kawasan Jalan KH. Wahid Hasyim, total mikroplastik yang teridentifikasi mencapai 14 partikel, terdiri dari 10 fiber, 1 film, dan 3 fragmen.

Baca juga: Air Hujan di Jombang Mengandung Mikroplastik, ECOTON Ingatkan Dampak Kesehatan

Keberadaan film dan fragmen mengindikasikan sumber pencemar yang lebih beragam, termasuk plastik kemasan sekali pakai.

Jumlah paling besar ditemukan di Jatirejo, Cukir, dengan 16 partikel mikroplastik. Komposisinya masih didominasi fiber, disusul jenis film dan fragmen dalam jumlah terbatas.

Terdiri dari 13 fiber, 2 film, dan 1 fragmen. Dominasi fiber di lokasi ini menunjukkan kuatnya pengaruh limbah domestik terhadap pencemaran mikroplastik di lingkungan sekitar.

Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa limbah rumah tangga menjadi penyumbang utama pencemaran mikroplastik di kawasan tersebut.

Dalam penelitian ini, yang diteliti oleh Ecoton adalah udara, dengan menggunakan alat Mikroskop portable, kertas whatmann dan cawan peteri, metode passive sampling.

Kepala Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa dominasi fiber merupakan pola yang hampir selalu muncul dalam penelitian mikroplastik, terutama di wilayah dengan aktivitas domestik yang padat.

Baca juga: Sejoli di Jombang Berduaan di Kuburan sampai Lupa Daratan, Tak Sadar Digerebek Warga

"Serat mikro ini banyak berasal dari pakaian berbahan sintetis. Saat proses pencucian, seratnya terlepas dan terbawa aliran air menuju saluran, sungai, hingga akhirnya mencemari lingkungan," ucapnya dalam keterangan yang diterima Tribujatim.com pada Selasa (20/1/2026).

Sementara itu, pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, mengingatkan bahwa keberadaan mikroplastik tidak bisa dipandang sebagai persoalan kecil.

Menurutnya, partikel mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia dalam jangka panjang.

"Apa yang ada di air akan dimakan ikan, lalu dikonsumsi manusia. Siklus ini berbahaya jika terus dibiarkan," tegas Prigi.

Temuan ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, untuk memperkuat pengelolaan limbah, membatasi penggunaan plastik sekali pakai, serta mulai beralih pada pola hidup yang lebih ramah lingkungan.

"Ini pesan untuk pemerintah daerah juga dan masyarakat, bahwa memperkuat pengelolaan limbah itu sangat penting dan sebisa mungkin, belajar untuk mengurangi penggunaan plastik," imbuhnya.

Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menambahkan bahwa persoalan mendasar terletak pada belum optimalnya sistem pengelolaan limbah domestik. "Tanpa perbaikan serius, mikroplastik akan terus mengalir tanpa kendali ke lingkungan," ungkapnya.

Kegiatan ini melibatkan pelajar, tenaga pendidik, serta pegiat lingkungan sebagai upaya meningkatkan kesadaran bersama.

Kepala MA Al Hikam Jatirejo, Matuhah Mustiqowati, menilai kegiatan tersebut sangat penting untuk membangun kepedulian lingkungan sejak usia sekolah. Ia berharap siswa mampu mengaitkan kebiasaan sehari-hari dengan dampak ekologis yang ditimbulkan.

"Semoga para siswa di sekolah bisa mempraktekkan bagaimana hidup sehat dan sudah mulai membiasakan untuk peduli terhadap lingkungan," bebernya.

 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved