Berita Surabaya

Perdagangan Jatim Alami Defisit USD 1,19 Miliar Selama Kuartal I-2021, Ini Penyebabnya

Selama empat bulan terakhir atau selama kuartal I-2021 sejak Januari, kondisi neraca perdagangan Jatim terus mengalami defisit.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Ndaru Wijayanto
tribunjatim/fikri
Aktivitas ekspor - impor di TPS Perak Surabaya. 

Reporter: Fikri Firmansyah I Editor: Ndaru Wijayanto

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Selama empat bulan terakhir atau selama kuartal I-2021 sejak Januari, kondisi neraca perdagangan Jatim terus mengalami defisit.

Pada Januari 2021 neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit sebesar USD 216,82 juta.

Kemudian, di Februari 2021 defisit sebesar USD 169,98 juta dan di Maret 2021 mengalami defisit sebesar USD 351,99 juta.

Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur melaporkan, pada April 2021 kemarin kondisi neraca perdagangan Jatim masih juga defisit, bahkan nilainya naik.

"Selama April 2021, neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit sebesar USD 452,22 juta," ujar Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan kepada awak media saat rilis kondisi ekspor - impor Jatim bulan April 2021, Kamis (20/5/21).

Defisit pada April 2021 ini, kata Dadang, disebabkan karena adanya selisih nilai perdagangan yang negatif pada
sektor nonmigas maupun pada sektor nonmigas.

Selisih nilai perdagangan pada sektor migas adalah defisit sebesarUSD 277,75 juta sedangkan selisih nilai perdagangan pada sektor nonmigas mengalami defisit sebesar USD 174,47 juta.

Adapun jika didata secara kumulatif, selama Januari - April 2021, masih kata Dadang, neraca perdagangan Jawa Timur juga masih mengalami defisit sebesar USD 1,19 miliar.

Kondisi itu menurut Dadang disumbangkan oleh selisih perdagangan ekspor-impor di sektor migas maupun sektor nonmigas yang sama-sama mengalami defisit.

Dadang menambahkan, defisit neraca perdagangan sektor migas pada Januari-April 2021 adalah sebesar USD 1,06 miliar, sedangkan defisit neraca perdagangan sektor nonmigas adalah sebesar USD 138,29 juta.

Artinya, lebih lanjut ia menerangkan, kondisi ini membuat kinerja kedua sektor tersebut memang perlu lebih ditingkatkan agar neraca perdagangan Jawa Timur berubah menjadi surplus di periode berikutnya.

"Disamping itu perlu diupayakan untuk menekan atau mengurangi defisit dari sektor migas," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved