Liga Champions

Sesumbar Hadapi Real Madrid, Mourinho: Benfica Tak Butuh Keajaiban

Pelatih Benfica, Jose Mourinho, menatap optimis laga menghapi Real Madrid pada leg pertama play-off babak 16 besar Liga Champions

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ndaru Wijayanto
Instagram/slbenfica
Jose Mourinho memberikan pujian tinggi kepada Alvari Arbeloa jelang laga krusial fase liga Liga Champions antara Benfica vs Real Madrid, pada Kamis (29/1/2026) dini hari WIB. 

 

Ringkasan Berita:
  • Pelatih Benfica, Jose Mourinho, optimistis menghadapi Real Madrid pada leg pertama play-off 16 besar Liga Champions 2025-2026 di Estadio da Luz, Selasa (17/2/2026).
  • Mourinho menegaskan Benfica tidak butuh “keajaiban” untuk lolos, melainkan performa terbaik dan hampir sempurna, meski mengakui status dan sejarah besar Real Madrid.
  • Kedua tim sebelumnya sudah bertemu di fase liga di stadion yang sama, dengan Benfica menang 4-2 atas Madrid.

TRIBUNJATIM.COM - Pelatih Benfica, Jose Mourinho, menatap optimis laga menghadapi Real Madrid pada leg pertama play-off babak 16 besar Liga Champions UEFA 2025-2026 di  Estadio da Luz, Selasa (17/2/2026).

Beberapa pekan sebelumnya, kedua tim sudah bertemu di stadion yang sama dalam laga terakhir fase liga. Saat itu, Benfica menang dengan skor 4-2.

Mourinho menilai timnya tidak memerlukan keajaiban untuk menyingkirkan raksasa Spanyol tersebut.

"Saya tidak berpikir Benfica membutuhkan keajaiban untuk mengeliminasi Real Madrid," kata pelatih asal Portugal itu seperti dikutip dari BolaSport.com.

Menurutnya, kunci utama adalah tampil mendekati sempurna. 

"Saya rasa Benfica harus berada dalam performa terbaik."

"Saya bahkan tidak bermaksud harus berada di puncak performa mereka, tetapi penampilan maksimal, hampir mencapai kesempurnaan, yang sebenarnya tidak ada, tapi bukan keajaiban."

Meski demikian, Mourinho tetap mengakui status dan sejarah besar Madrid di kompetisi Eropa.

"Jelas, Real Madrid adalah Real Madrid, para pemain Real Madrid adalah pemain Real Madrid: sejarah, pengetahuan, ambisi."

"Satu-satunya hal yang membandingkan mereka adalah bahwa kami merupakan dua klub raksasa. Di luar itu, tidak ada lagi."

Namun, ia menegaskan bahwa dalam sepak bola segala kemungkinan bisa terjadi.

"Namun, sepak bola memiliki kekuatan ini, dan kami bisa menang," ujar dia.

Baca juga: Strategi di Luar Nalar Mourinho, Real Madrid Dibuat Jadi Ayam Sayur di Kandang Benfica

Kenangan Bersama Madrid

Laga ini juga menjadi momen emosional bagi Mourinho yang pernah menangani Real Madrid pada periode 2010-2013.

Selama tiga tahun, Mourinho menghadirkan tiga gelar.

"Saya memberikan segalanya untuk Real Madrid," tutur Mou mengenang masa-masa di ibukota Spanyol.

"Saya melakukan hal-hal dengan baik dan hal-hal buruk, tetapi saya memberikan yang terbaik."

"Ketika seorang profesional memberikan segalanya, ada ikatan yang bertahan selamanya."

"Perasaan saya setelah 12 tahun bersama para penggemar Madrid sama seperti perasaan saya, mereka menghormati dan sangat menghargai saya."

"Itu fantastis bagi saya. Saya tidak ingin memicu cerita yang tidak ada," pungkas Mourinho.

Rekam Jejak Kontroversial

Perjalanan Mourinho bersama Madrid diwarnai beberapa kontroversi.

Dia beberapa kali melakukan tindakan yang menjadikan dirinya sebagai bahan pemberitaan.

Salah satu kejadian paling ikoni adalah ketika Mourinho mencokok mata asisten pelatih Barcelona, Tito Vilanova, pada Piala Super Spanyol 2011.

Setahun kemudian, usai menghadapi lawan yang sama, Mourinho mengejar wasit Fernando Teixeira sampai parkiran mobil selepas laga karena merasa timnya dirugikan.

Artikel ini telah tayang di BolaSport.com

Sumber: BolaSport.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved