Sumur Ambles
Pakar Bencana ITS: Awas, Ambles dan Ambrolnya 55 Sumur Pertanda akan Longsor
Ambles dan ambrolnya sumur tersebut karena adanya retakan tanah di wilayah itu dan sangat bahaya.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Fenomena alam langka, yakni ambles dan ambrolnya 55 sumur warga di Kabupaten Kediri menarik perhatian Amien Widodo, Pakar Bencana dari ITS Surabaya.
Menurut Amien, ambles dan ambrolnya puluhan sumur milik warga di Dusun Dorok, Dusun Jambean dan Dusun Nanas yang berada di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri merupakan pertanda akan adanya longsor.
Sumur ambles dan ambrol tersebut karena adanya retakan tanah di wilayah tersebut.
"Makanya pada tahap awal area dengan lubang akan terlebih dulu ambles dan ambrol," ujarnya, kepada Surya, Rabu (26/4/2017) malam.
Baca: Geger Fenomena Alam Langka di Kediri, 55 Sumur Warga Tiba-tiba Ambles dan Ambrol, Begini Akibatnya
Jika berkaca peristiwa longsor di Ponorogo, juga terjadi retakan tanah dan penurunan permukaan tanah.
Hanya saja peristiwa di Ponorogo, kata Amien Widodo yang juga Koordinator Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS ini berlangsung selama tiga minggu secara bertahap.
“Kalau sudah 55 sumur itu cukup parah, bisa jadi nanti tahap airnya hilang dan tanahnya ambles," tegasnya.
Apalagi kalau curah hujan tinggi, maka harus segera diamankan. Karena bisa saja tiba-tiba longsor.
Ia menjelaskan, peristiwa longsor terjadi akibat lapukan tanah yang cukup tebal di pegunungan.
Baca: Longsor Landa Magetan, 1 Orang Tewas Tertimbun, Belasan Rumah Rusak
Lapukan yang awalnya diikat oleh akar tanaman saat ini tidak ada yang menahan. Sehingga tanah tersebut akan ambrol saat air hujan memasuki rongga lapukan dan membuat masaa tanah semakin berat.
“Fenomena ini tidak karena penebangan 1 atau 2 tahun yabg lalu, tapi belasan tahun lalu. Sekarang baru dampaknya terlihat semua,” ucapnya.
Ditambahkan, peristiwa retaknya tanah di area lereng pegunungan menurutnya juga terjadi di Nganjuk dan Madiun sebelum longsor. Sebab, banyak area hutan yang telah dijadikan lahan pertanian.
“Retakan ini biasanya 300 meter, jadi bisa dilihat nanti apa kampung lainnya juga berjarak hingga sepanjang itu dengan lokasi ambrolnya sumur,” tegas Amien. (Surya/Sulvi Sofiana)