TribunJatim/

Analisa Pakar Geoteknik UB Eko Andi Suryo : Perhatikan Stabilitas Lereng di Merjosari Kota Malang

. Jika lereng terhitung stabil, maka tidak ada masalah jika terdapat rumah di dekat lereng.

Analisa Pakar Geoteknik UB Eko Andi Suryo :  Perhatikan Stabilitas Lereng di Merjosari Kota Malang
SURYA/SRI WAHYUNIK
Kondisi rumah warga di Perumahan Joyogrand Inside, Kota Malang tertimbun longsor mematikan, Senin (13/11/2017). 

 TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Tanah longsor terjadi di kawasan Joyogrand Inside Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, Minggu (12/11/2017) sore.

Menurut pakar Geoteknik Universitas Brawijaya, Eko Andi Suryo ST MT PhD, lokasi perumahan yang berada di atas tanah berkontur memang harus lebih memperhatikan perubahan level tanah.

"Rumah umumnya dibangun di tanah datar. Tanah berkontur berarti ada galian dan pengurukan. Pengembang perumahan biasanya akan membuat tanah yang miring menjadi datar. Oleh karena itu, stabilitas lereng harus diperhatikan," jelasnya pada SURYAMALANG.COM, Senin (13/11/2017).

Stabilitas lereng, lanjutnya, harus dianalisis dengan perhitungan sehingga mengetahui aman atau tidaknya untuk dilakukan pembangunan rumah. Jika lereng terhitung stabil, maka tidak ada masalah jika terdapat rumah di dekat lereng.

"Oleh karena itu juga tidak ada peraturan khusus harus berapa meter jarak antara plengsengan dan bangunan. Selama aman sesuai perhitungan, rumah yang ada di bawah lereng atau berada berdempetan dengan plengsengan pun juga akan aman," tutur dosen Teknik Sipil UB itu.

Ia menganalisa, penyebab dan pemicu longsor pada Perumahan Joyogrand adalah hujan yang turun dengan deras. Air hujan kemudian masuk ke dalam tanah dan menurunkan kekuatan gesernya, atau membuat hubungan butiran tanah menjadi licin.

"Terutama saat baru kali pertama hujan. Tanah yang masih kering membutuhkan proses untuk meresapkan air yang diterima dari hujan. Tambahan berat dari air membuat kuat geser tanah tidak kuat menahan beban dan terjadi longsor pada lereng kritis," papar Eko.

Baca: Selidiki Kasus Longsor di Kota Malang, Polisi Akan Usut Pengembang Perumahan

Dinding penahan tanah juga dibutuhkan sebagai perkuatan untuk mencegah terjadinya longsor. "Tapi juga harus dianalisa apakah kapasitasnya cukup atau tidak. Karena bisa terjadi beban tambahan, seperti bangunan baru atau hujan dengan curah yang lebih besar dari normal," ujarnya.

Untuk pengembang perumahan di lereng atau tanah berkontur, ia menyarankan harus melakukan analisa stabilitas lereng terutama dalam kondisi hujan deras. "Lereng harus stabil dan bisa dikuatkan dengan dinding penahan tanah sesuai kriteria di peraturan standar nasional Indonesia," sarannya.

Sedangkan untuk masyarakat, ia mengimbau untuk memahami ciri-ciri kelongsoran yang bisa diperiksa oleh masyarakat awam. Antara lain adalah adanya keretakan setelah hujan di puncak tebing atau di tebing sebagai tanda bahwa lereng tidak stabil.

"Masyarakat juga bisa memeriksa genangan air di lereng atau adanya aliran air keluar dari tanah. Karena bisa jadi hujan terjadi di tempat lain namun airnya menggenang di lereng tersebut," lanjut dia.

Pohon dan tiang listrik yang terlihat miring juga menjadi tanda-tanda longsor. Masyarakat harus mulai memahami sehingga bisa waspada. "Belum tentu lokasi lereng yang sebelumnya tidak pernah terjadi longsor bisa terhindar dari longsor. Karena perubahan lingkungan sekitar bisa juga berpengaruh. Misalnya, sekitarnya dulu hutan namun kini sudah menjadi perumahan. Sehingga air yang dulunya meresap di sana, sudah berubah dan beralih," tutupnya. (Surya/Neneng uswatun)

Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help