Ibadah Haji 2018

Kisah Perjuangan Warti, Penjual Capar di Magetan yang 38 Tahun Menabung Untuk Bisa Naik Haji

Penjual capar di Magetan ini 38 tahun menabung untuk bisa naik haji setelah melalui perjuangan luar biasa.

Kisah Perjuangan Warti, Penjual Capar di Magetan yang 38 Tahun Menabung Untuk Bisa Naik Haji
SURYA/DONI PRASETYO
Warti, saat menjual capar di Pasar Desa Panggung, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. 

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Mbah Warti, penjual capar atau lalapan di Pasar Desa Panggung, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan akhirnya bisa berangkat bersama dengan 394 calon jemaah haji (CJH) dari Magetan, Jumat (27/72018) pukul 01.00 dini hari.

Menurut Warti, menunaikan ibadah haji sudah menjadi mimpinya sejak muda, saat dirinya masih mencari sayuran  kangkung dan menjualnya ke pasar, sekitar tahun 1980.

Mendengar beberapa petani bicara ongkos naik haji (ONH) yang nilainya sebesar Rp 7 juta, dia sejak saat itu bertekad menabung.

"Tidak mikir bisa berangkat tahun berapa," ujarnya, kepada Surya, Kamis (26/7/2018).

Dengan menjual kangkung, selain keuntungannya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, peminat sayur kangkung tidak begitu banyak. Sehingga ada niat menjadi penjual capar yang peminatnya lebih banyak dan keuntungan bisa untuk kebutuhan keluarga juga bisa ditabung.

"Saya mulai jual capar tahun 1990 an, setiap hari bisa menghabiskan paling sedikit 3 kilogram capar, itu kalau hari biasa. Tapi kalau hari hari besar bisa lebih dari sepuluh kilogram, bahkan sekarang ini sudah bisa terjual capar sebanyak setengah kuintal (50 kilogram," jelas istri Sukimin, tukang servis payung keliling ini.

Ternyata setelah sekitar 30 tahun menabung, tahun 2010 diantar anaknya mendaftar untuk naik haji di kantor Kementerian Agama Magetan, dan membayar uang muka.

Sepekan lalu atau delapan tahun kemudian, ONH untuk ibadah haji 2018 itu dilunasi total sebesar Rp 36,1 juta. Bahkan uang tabungannya tersisa dan dibelikan motor bekas. Ini berarti total dia harus menunggu selama 38 tahun.

"Syukur sejak saya berniat naik haji, rejeki saya seperti ditumpahkan, jualan capar laku keras. Mungkin ini sudah suratan, Allah mengizinkan saya berangkat tahun ini, meski umur saya sudah cukup. Mudah mudahan bisa lancar, mohon doa-nya," jelas Warti, seraya mengatakan suaminya, masih belum ada niatan berhaji, tapi juga berniat mendaftar setelah Warti pulang.

Kasi Haji dan Umrah Kemenag Kabupaten Magetan Yun Isnaeni yang dikonfirmasi mengatakan, untuk tahun 2018 ini jumlah CJH dari Kabupaten Magetan tidak genap satu kelompok terbang (kloter) dan akan di support CJH dari Malang.

"Jumlah CJH kita (Magetan) hanya 395 orang, tidak cukup untuk satu kloter. Satu kloter sebanyak 450 CJH. Akhirnya, nanti CJH Magetan digabung dengan CJH dari Malang,"jelas pejabat Haji dan Umroh, Kemenag Magetan ini.

Kata Yuni Isnaeni, karena mayoritas CJH Magetan yang berangkat haji berusia lanjut, antara 50 tahun hingga 92 tahun, nantinya akan didampingi tenaga medis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan.

"Seorang dokter dan dua tenaga medis akan mendampingi CJH selama di tanah suci hingga kembali ke tanah air. Tahun ini CJH yang berangkat haji tertua berumur 92 tahun, dan termuda seorang berusia 20 tahun," tandas Yuni Isnaeni. (Surya/Doni Prasetyo)

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved