Opsi Pindah Tempat, Kilang Pertamina-Rosneft Kembali Mendapat Penolakan Warga Tuban

Pertamina kembali melakukan sosialisasi pembangunan kilang minyak New Grass Root Refinery (NGRR), dengan menggandeng Pemkab Tuban.

Opsi Pindah Tempat, Kilang Pertamina-Rosneft Kembali Mendapat Penolakan Warga Tuban
SURYA/M SUDARSONO
Sosialisasi perencanaan pengalihan lahan kilang minyak Pertamina-Rosneft di Tuban, Rabu (9/1/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - Pertamina kembali melakukan sosialisasi pembangunan kilang minyak New Grass Root Refinery (NGRR), dengan menggandeng Pemkab Tuban dan Pemprov Jatim, Rabu (9/1/2019).

Sosialisasi dilakukan di dua tempat, yaitu di Balai Desa Sumurgeneng dan Balai Kecamatan Jenu Tuban.

Empat desa di Kecamatan Jenu yaitu Sumurgeneng, Wadung, Rawasan, dan Kaliuntu, masuk dalam rencana opsi kilang Pertamina-Rosneft, setelah dua desa sebelumnya yaitu Remen dan Mentoso, alot dalam pembebasan lahan.

Susur Sungai Bengawan Solo, BPBD Tuban Temukan 24 Titik Tanggul Rawan Longsor

Dua Member BTOB akan Susul Eunkwang Wamil, Sungjae Jadi Leader? Begini Jawaban Changsub

Warga Desa Wadung, Johni Efendi mengatakan, dengan memperhatikan pengalaman perusahaan yang bercokol di kawasan pedesaan, maka masyarakat juga punya hak untuk menolak.

Sebab menurutnya, adanya perusahaan besar justru banyak membawa hal tidak baik, termasuk polusi dan beberapa hal lain.

"Kami menolak adanya pembangunan kilang minyak Pertamina-Rosneft," ujarnya saat sosialisasi.

Dua Bangunan di Bojonegoro Terbakar dalam Semalam, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah

Kilang Minyak Akan Dibangun di Tuban, Warga Masih Tolak Bebas Lahan, Pertamina Pakai Opsi Reklamasi

Sementara itu, Kepala Desa Wadung, Sasmito menyatakan, dirinya mewakili warga juga bersikap sama.

Warga masih bersikeras menolak adanya pembangunan kilang minyak, karena pengalaman adanya perusahaan besar di sekitar tidaklah membawa dampak baik.

"Ya kami mewakili warga menolak pembangunan kilang minyak tersebut," terangnya.

Tahun 2019, DPRD Tuban akan Godok 21 Raperda, 8 di Antaranya Sisa Raperda 2018 yang Belum Tuntas

Kecelakaan Minibus Vs KA Jayabaya di Beji Pasuruan, Keluarga Tunggu Jenazah Sopir Minibus

Sementara itu, Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region (MOR) V, Rustam Aji menyatakan, pihaknya meyakini adanya penolakan warga merupakan dinamika dalam pembangunan suatu proyek.

Meski demikian, Pertamina akan tetap berusaha melakukan upaya agar apa yang dibutuhkan dalam proyek antara Indonesia dan Rusia itu bisa terwujud.

"Ya ini sebuah dinamika, kita mengerti akan hal itu. Kita akan tetap berusaha," pungkasnya.

Seleksi Hari Kedua Persela Lamongan Coret Separuh dari 57 Pemain Seleksi

Diketahui, di opsi lokasi pembangunan kilang minyak yang baru ini membutuhkan lahan sekitar 841 hektare, rinciannya lahan KLHK 348 hektare, dan lahan warga 493 hektare.

Sedangkan di lahan sebelumnya di Desa Remen dan Mentoso membutuhkan lahan 548 hektare, rinciannya lahan KLHK 348 hektare, dan lahan warga sekitar 200 hektare lebih, yang tak kunjung selesai pembebasannya. (Surya/M Sudarsono)

Penulis: M Sudarsono
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved