Warga Jombang ini Sulap Kayu Bakar di Hutan Jadi Kerajinan Keren Bernilai Ekonomi

Bagi kebanyakan masyarakat yang tinggal sekitar hutan Wonosalam, Kabupaten Jombang, kayu limbah yang sudah kering di hutan setempat umumnya dimanfaat

Warga Jombang ini Sulap Kayu Bakar di Hutan Jadi Kerajinan Keren Bernilai Ekonomi
Surya/Sutono
Eko Cahyono, perajin kayu hutan warga Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Jombang, melakukan sentuhan akhir pada kerajinan tangan (handicraft) berbahan kayu kering limbah hutan, yang biasanya digunakan kayu bakar.(sutono) 

 TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Bagi kebanyakan masyarakat yang tinggal sekitar hutan Wonosalam, Kabupaten Jombang, kayu limbah yang sudah kering di hutan setempat umumnya dimanfaatkan sebagai kayu bakar.

Namun tidak demikian dengan Eko Cahyono (42), warga Dusun/Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang ini. Kayu hutan kering ini disulapnya jadi produk kerajinan tangan yang memiliki nilai seni dan ekonomi.

Ditemui di kediamannya, Eko Cahyono tampak sedang melakukan sentuhan akhir atas dua buah kerajinan tangan (handicraft) berbahan kayu garapannya, berbentuk replika tumbuhan straberry dan replika bonsai.

Tangannya dengan cekatan menghaluskan vernis di batang dari replika bonsai yang dikerjakannya. Dia juga merapikan buah-buah strawberry berbahan kayu yang dicat merah, agar lebih menyerupai aslinya.

"Yidak terlalu sulit sebenarnya. Cuma butuh ketelatenan, ketelitian, kesabaran dan tentu saja ada jiwa seni," kata Eko Cahyono, kepada Surya.co.id, Jumat (11/1/2019).

Eko mengaku bahan bakunya potongan dan bonggol kayu limbah kering yang banyak dijumpai di hutan dekat tempat tinggalnya. Dia mengaku menggunakan berbagai jenis kayu, namun yang utama jenis jati, sono dan bambu.

Saat tergeletak di hutan, bahan-bahan tersebut semula tidak menarik. Dan seakan hanya layak dijadikan kayu bakar untuk menyalakan tungku di dapur.

Namun setelah dikelupas dan dibersihkan kulitnya, mulai tampak keunikan masing masing kayu. Eko biasanya membuat hiasan untuk pajangan rumah.

Mulai dari replika bunga, bonsai, sampai dengan kerajinan lampu tidur berhiaskan bunga-bunga. Bahan baku utamanya, ya itu tadi, kayu kering limbah dari hutan.

Jokowi Ikut Dukung Agnez Mo Menangkan Kategori Social Star Award di iHeartRadio Music Awards 2019

Lion Air Buka Rute Penerbangan Baru Surabaya-Samarinda di Bandara Juanda, Simak Jadwal Lengkapnya

Buaya Peliharaan Makan Manusia di Tanawangko Minahasa, Korban Diduga Terpeleset ke Kolam

Jane Shalimar Tak Lagi Dampingi Vanessa Angel, Kini Ikut Kajian: 2 Hari Kemarin Terbuang Sia-sia


”Makin unik dan tua kayu dan bonggolnya, maka bagus penampakannya seteah jadi. Nilai seni dan harganya semakin tinggi," ujar Ekokepada Tribunjatim.com, kemarin (28/12).

Eko mengaku memulai usaha membuat kerajinan tangan dari kayu sejak sekitar empat tahun lalu. Terinspirasi saat dirinya membeli replika tumbuhan bunga di toko bunga Jombang.

Saat itu, Eko melihat bahan yang digunakan kayu kering biasa seperti kayu mangga yang tidak memiliki nilai seni. Dari situ, Eko berpikir untuk membuat kerajinan tangan sendiri.

”Daripada beli, mending saya manfaatkan limbah kayu kering yang banyak dijumpai di hutan. Kebetulan Desa Sumberjo ini wilayah hutan, sehingga mencari kayu seperti ini tidak sulit," beber Eko kepada Tribunjatim.com.

Beberapa jenis kayu yang dipilih adalah kayu jati, sono dan bambu. Selain banyak dijumpai di hutan, ketiga jenis kayu cocok sebagai bahan dasar membuat kerajinan tangan.

"Sekaligus saya ingin menonjolkan kesan alami hutan. Makanya saya gunakan kayu asli dari hutan Desa Sumberjo, Wonosalam," terang Eko kepada Tribunjatim.com.

Selain kayu limbah hutan sebagai bahan utama, juga ada bahan pendukungnya. Antara lain cat, lem kayu dan vernis

Tak dinyana, hasil kerajinan diminati warga lain, terutama teman dan kerabatnya yang berkunjung ke ruah Eko. Semula, Eko hanya memberikannya sebagai buah tangan atau kenang-kenangan tanpa menerima uang.

Tetapi justru banyak teman dan kerabat yang mendorong agar Eko menjadikan kerajinan tangan ini sebagai usaha yang bernialai ekonomi, minimal sebagai usaha sampingan.

Karena dorongan itulah, Eko lantas mulai memproduksi berbagai replika berbagai bentuk tumbuhan dan bonsai. Tak hanya untuk stok, namun juga mengerjakan pesanan yang mulai mengalir.

Melihat kesuksesan Eko, beberapa warga mulai mengikuti jejaknya. Eko sendiri mengaku tak menjadi persoalan, apalagi takut tersaingi. Justru Eko mengajak warga lain bergabung guna menggeluti usaha kerajinan tangan dari limbah kayu.

Kini belasan warga yang mengerjakan kerajinan seperti yang digeluti Eko.

"Dan kami saling membantu. Misalnya, saya kekurangan bahan baku, bisa pinjam dulu ke tetangga," kata Eko kepada Tribunjatim.com.

Eko mengaku hasil karyanya cukup diminati, tak hanya dari daerah Jombang, namun juga di luarnya. Beberapa kali, Eko mengaku mengirim hasil kerajinannya ke Mojokerto dan Surabaya.

”Tetap paling banyak memang masih tingkat lokal saja," tutur Eko kepada Tribunjatim.com.

Sedangkan untuk harga jual, Eko mematok yang paling kecil Rp 70.000 dan yang besar, setinggi dua meter dipatok harga Rp 2,5 juta per buah.(Sutono/TribunJatim.com).

Penulis: Sutono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved