Prihatin dengan Harga Jual Batik, Berdit Zanzabela Promosikan Batik Tulis Trenggalek Lewat Hijab

Raki Persahabatan Jawa Timur 2017 ini bercerita, ia merasa prihatin dengan harga jual batik tulis Trenggalek di tahun 2015.

Prihatin dengan Harga Jual Batik, Berdit Zanzabela Promosikan Batik Tulis Trenggalek Lewat Hijab
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Berdit Zanzabela promosikan batik tulis Trenggalek lewat hijab. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sebagai perempuan kelahiran Trenggalek, Berdit Zanzabela (24) merasa perlu melakukan hal lebih bagi kota asalnya, dengan mengembangkan batik tulisnya.

Raki Persahabatan Jawa Timur 2017 ini bercerita, ia merasa prihatin dengan harga jual batik tulis Trenggalek di tahun 2015.

Daya beli masyarakat terhadap batik tulis, menurutnya, cenderung rendah dibandingkan dengan batik print.

"Padahal itu hanya tekstil bermotif batik. Yang benar asli batik khas Indonesia, itu hanya batik tulis dan cap, yang melalui proses pembuatan memakai lilin atau malam. Kasihan gitu, sama para perajin batik tulis. Bikin batiknya susah, tapi tidak diapresiasi," tutur pembawa berita di sebuah stasiun televisi nasional itu, Minggu (13/1/2019).

Awali Tahun 2019, ASN Banyuwangi Dapat Pelatihan ESQ untuk Bangkitkan semangat Jalankan Tugas

Tampil Cantik dengan Makeup No Make Up dan Bibir Glossy yang Jadi Tren 2019

Keprihatinan yang dirasakan Bela, sapaan akrabnya, membuatnya ingin membantu para perajin, supaya kain batik tulis bisa menjadi fesyen item anti-mainstream, sekaligus bernilai jual tinggi.

Bersamaan dengan hijab modern yang sedang banyak diminati, mahasiswa Media dan Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya ini terpikir untuk menggabungkan antara hijab dan batik.

Berdit Zanzabela promosikan batik tulis Trenggalek lewat hijab.
Berdit Zanzabela promosikan batik tulis Trenggalek lewat hijab. (ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM)

Lahirlah Alabela Indonesia pada Desember 2015, sebuah brand hijab batik hasil idenya.

"Saya cari di Google, waktu tahun itu belum ada brand atau rumah produksi yang bikin hijab dengan bahan benar-benar batik tulis, bukan tekstil bermotif batik," kata Ketua Umum Gramuda Sabudarta tersebut.

Papilio Sunrise, Minuman Matahari Terbit untuk Sambut Akhir Tahun dari Best Western Papilio Hotel

Alis Thailand Look Jadi Tren Makeup 2019, Gini Lho Cara Pengaplikasiannya!

Ia lalu membuat beberapa contoh hijab, dan mengunggahnya di Instagram.

Respons yang ia dapat dari teman-temannya sangat bagus, sehingga Bela memutuskan untuk serius melakukan produksi.

"Banyak yang bilang unik, karena benar-benar pakai batik tulis dan cap, bukan bahan printing," ujarnya.

Humas Ikatan Raka Raki Jawa Timur itu membanderol hijab batiknya mulai Rp 75.000 sampai Rp 195.000, tergantung jenis kain batik yang digunakan.

Konsep Lebih Instagramable, Anang Family Karaoke Buka Cabang di The Central Mall Gunawangsa Tidar

Sungjae BTOB Live 12 Jam Maraton Gegara Kalah Main Batu Gunting Kertas dengan Changsub

Bela pun berpesan bagi anak muda yang punya usaha sepertinya dan mengangkat kearifan lokal seperti dirinya, untuk terus menggali kreativitas dan tak lupa berinovasi.

"Karena kearifan lokal itu sudah menarik sebagai ciri khas dari daerah tertentu. Tinggal dibuat semakin unik dengan sentuhan kreativitas, dan inovasi tanpa batas," tutupnya. (Surya/Delya Octovie)

Penulis: Delya Octovie
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved