Warga Mojokerto ini Bersedia Makam Ibunya Dipindahkan, Syaratnya ada Perjanjian Hitam di atas Putih

Anak ke 2 Nunuk, Roni Dwi Nugroho tak keberatan bila makam ibunya dibongkar untuk dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum Kedungsari di daerah Kemlagi, K

Warga Mojokerto ini Bersedia Makam Ibunya Dipindahkan, Syaratnya ada Perjanjian Hitam di atas Putih
misteripenampakan.blogspot.com
Ilustrasi 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Anak ke 2 Nunuk, Roni Dwi Nugroho tak keberatan bila makam ibunya dibongkar untuk dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum Kedungsari di daerah Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Namun, dirinya menginginkan pemindahan makam tersebut ada perjanjian hitam di atas putih.

"Pihak camat, lurah, dan Polsek Gedeg harus mendatangi perjanjian ini," katanya, Kamis (21/2).

Dia mengungkapkan, perjanjian hitam di atas putih itu bertujuan agar pemindahan makam tak lagi terulang. Selain itu, dia beeharap agar Pemerintah Kabupaten Mojokerto menyediakan tempat pemakaman bagi non muslim di Desa Ngares Lor.

"Saya meminta persetujuan hitam di atas putih, supaya tidak terulang lagi pemindahan makam ibu saya. Saya juga meminta agar pemerintah menyediakan tempat pemakaman untuk warga non muslim," tegasnya.

Dia menceritakan, ibunya Nunuk meninggal karena Stroke beberapa hari yang lalu setelah dirawat di Rumah Sakit RA Basuni. Saat hendak memakamkan jenazah ibunya di makam Islam di Dusun Ngares Lor, warga setempat menolaknya.

"Pihak keluarga pun bermusyawarah dengan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) dan perwakilan tokoh masyarakat Muslim untuk menyelesaikan permasalahan ini. Hasil dari musyawarah itu, disepakati bila ibu saya bisa dimakamkan di makam Islam Dusun Ngares Lor dengan beberapa syarat. Tapi," terangnya.

Setelah kesepakatan itu disetujui, para warga muslim Dusun Ngares Lor berbondong-bondong takziah ke rumah Nunuk. Para warga muslim juga datang saat pemakaman jenazah Nunuk.

Meski ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, dirinya bersama keluarga tak mempersalahkan. Mereka justru merasa lega karena ibunya bisa dimakamkan di makam Islam yang tak jauh dari rumahnya. Tetapi dia tak sadar hasil kesepakatan itu tak ada perjanjian hitam di atas putih.

"Kesepakatan itu hanya dibacakan oleh Sekda (Sekertaris Desa). Saya juga tidak diberi surat kesepakatan," paparnya.

Bambang Haryo : Pelayanan PDAM di Sidoarjo Belum Sebagus Pelayanan PDAM Surabaya

BREAKING NEWS : Guru IM, Pelaku Pelecehan Seksual Siswa SDN Kauman 3 Malang Jalani Pemeriksaan

Ramalan Zodiak Jumat, 22 Februari 2019: Virgo Beruntung, Libra Harus Ikhlas, Pisces Pusing

Beberapa hari berikutnya setelah pemakaman, ada 7 orang warga yang mengatasnamakan dirinya sebagai tokoh islam kembali menolak jenazah Nunuk dikebumikan di makam Islam Dusun Ngares Lor.

Dirinya bersama keluarga tak dapat berbuat apa-apa. Sebab, bukti kesepakatan bila jenazah Nunuk diizinkan warga di makamkan di makam Islam Di Dusun Ngares Lor tidak tertulis di atas kertas. Sehingga musyawarah kembali digelar di rumahnya.

"Hasil dari musyawarah makam ibu saya dipindah ke Tempat Pemakaman Umum Kedungsari. Saya dan keluarga bersedia meski dari lubuk hati menginginkan jenazah ibu kami di makamkan di Ngares Lor. Tetapi, kesepakatan ini harus tertulis, agar tak ada lagi masalah penolakan," pungkasnya. (nen/TribunJatim.com).

Penulis: Danendra Kusuma
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved