Curah Hujan Tinggi dan Pasang Air Laut Memicu Banjir Bandang di Kecamatan Panggul, Lahan Padi Rusak
Aspal jalanan di Kecamatan Panggul banyak yang terkelupas, selepas banjir bandang di wilayah ini surut.
Penulis: David Yohanes | Editor: Melia Luthfi Husnika
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Aspal jalanan di Kecamatan Panggul banyak yang terkelupas, selepas banjir bandang di wilayah ini surut.
Selain itu, hamparan tanaman padi milik warga banyak yang roboh diterjang derasnya air pada Rabu (6/3/2019) malam.
Ketinggian air di pertigaan Loji, titik persimpangan vital Kecamatan Panggul sekitar 120 sentimeter.
Sementara di permukiman warga, ketinggian air bisa mencapai 2 meter.
Menurut warga setempat, Hari Agung Lukito (48), banjir ini yang terbesar selama 21 tahun terakhir.
"Belum pernah ada banjir sebesar ini sebelumnya, sejak 21 tahun lalu," ujar Hari, Kamis (7/3/2019).
Banjir disebabkan curah hujan yang tinggi di wilayah Pule, Dongko dan Tangkil.
• Bencana Banjir di Trenggalek Meluas ke 10 Kecamatan, Gus Ipin Mengeluarkan Surat Status Bencana
Air kemudian mengarah ke Sungai Gedangan yang masuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Konto.
Saat air ini sampai di Panggul, di saat bersamaan terjadi air pasang laut tinggi.
Akibatnya air dari Sungai Gedangan tidak bisa masuk ke laut.
"Air mulai naik sekitar pukul 19.00 WIB, selepas isya," tutur Hari.
Empat tahun terakhir wilayah Panggul tidak pernah terjadi banjir.
Salah satu sebabnya karena ada tanggul laut yang jebol karena terjangan ombak, di bagian timur.
Namun tahun ini tanggul yang jebol ini sudah tertutup, sehingga aliran air kembali ke arah barat.
"Dengan kondisi ini, saya memperkirakan banjir akan terulang setiap tahun," sambung Hari.