Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Sebelum Jatuh, Soeharto Kunjungi Mesir yang Terakhir Kali, Durasi Kunjungan Mendadak Dipersingkat

Presiden Soeharto Sempat Persingkat Kunjungan ke Mesir Saat 21 Tahun yang lalu

Penulis: Elma Gloria Stevani | Editor: Januar
intisari online
Soeharto 

TRIBUNJATIM.COM - Pada 1998, krisis ekonomi melanda Indonesia dan berbuntut panjang. Kala itu mahasiswa sebagai “Agent of Change” tidak terima dengan kondisi tersebut dan melancarkan aksi demonstrasi untuk menuntut perubahan kepemimpinan nasional.

Hingga aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa saat itu semakin massif saat Soeharto kembali terpilih sebagai presden dalam Sidang Umum MPR pada Maret 1998.

Untuk diketahui, gerakannya meluas hingga ke berbagai kampus di Indonesia dan menghasilkan dampak yang begitu jelas di mana bentrokan dan kerusuhan dengan aparat kemanan tak terelakkan.

Ternyata aksi yang dilakukan mahasiswa ini menghasilkan korban meninggal dan luka-luka. Ya, gerakan mahasiswa semakin panas seusai terjadi Tragedi Trisaksi yang menewaskan empat mahasiswa. Tewasnya mereka adalah karena ditembak dengan peluru tajam.

Pengakuan Ajudan Soal Sorot Mata Kartosoewiryo Kala Dieksekusi Mati, Bikin Soekarno Langsung Berdoa

Setelah peristiwa itu, suasana Jakarta semakin memanas.

Aksi damai untuk menyerukan belasungkawa terhadap mahasiswa Universitas Trisakti yang meninggal berujung kerusuhan. Beberapa titik di Jakarta terjadi kerusuhan pada 13 dan 14 Mei 1998.

Ketika peristiwa itu terjadi, Soeharto sedang berkunjung ke Mesir untuk menghadiri acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-15.

Entah ada hubungannya atau tidak dengan kekacauan di Indonesia, Soeharto akhirnya mempersingkat sehari masa kunjunganya.

Sebelum Jabatannya Jatuh, Soeharto Ternyata Sudah Siapkan Pengganti Dirinya: Orangnya Sudah Ada

Soeharto kembali ke Indonesia pada 14 Mei 1998 melalui Bandara Kairo menuju Jakarta.

Bahas krisis Asia

Krisis moneter di Asia menjadi salah satu agenda utama pertemuan G-15 atau kelompok 15 negara berkembang yang bertempat di Kairo, Mesir pada Mei 1998.

Dikutip dari Harian Kompas yang terbit pada 12 Mei 1998, pertemuan di Kairo Mesir ini juga membahas agar krisis moneter seperti di Asia tidak terulang dan tidak menjalar ke tempat lain.

Selain itu, pertemuan juga untuk meningkatkan kerja sama di antara negara berkembang.

Ketika itu negara yang tergadung dalam K-15 adalah Aljazair, Argentina, Brasil, Cile, India, Indonesia, Jamaica, Malaysia, Meksiko, Mesir, Nigeria, Peru, Senegal, Venezuela dan Zimbabwe. Melalui KTT, para pemimpin Asia, Afrika, dan Amerika Latin memaparkan problematika yang tipikal ada di negara berkembang.

Soeharto ketika itu mewakili Asia menyampaikan apa dialami negara berkembang. Sementara itu, Presiden Aljazair Liamine Zeroual yang mewakili Afrika.

Dalam pidatonya, Soeharto menegaskan kembali kepada dunia, Indonesia akan terus melakukan upaya-upaya untuk menanggulangi krisis ekonomi dan krisis moneter melalui serangkaian reformasi di bidang ekonomi dan keuangan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved