Mayat Laki-Laki di Kebun Pepaya Kediri Masih Tahap Visum, Ada Darah Mengering dan Kondisi Tubuh Kaku
Penyidik Polsek Pesantren masih menunggu hasil visum et repertum mayat Joko (60) yang ditemukan meninggal di tengah kebun pepaya.
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Melia Luthfi Husnika
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Penyidik Polsek Pesantren masih menunggu hasil visum et repertum mayat Joko (60) yang ditemukan meninggal di tengah kebun pepaya.
Dari hasil visum dokter RS Bhayangkara tersebut baru akan diketahui penyebab kematiannya.
Kapolsek Pesantren Kompol Paidi Sadiharto menjelaskan, meski ditemukan luka berdarah di telinga korban, namun belum diketahui penyebabnya.
"Kami masih menunggu hasil otopsinya keluar. Sehingga diketahui korban meninggal karena apa," jelas Kompol Paidi Sadiharto kepada tribunjatim, Senin (1/7/2019).
• Mayat Wanita Mengambang di Sungai di Mojokerto Terkuak, Namanya Kasih, Keluarganya Sudah Tahu
Diakui Kompol Paidi, dari pemeriksaan fisik di tubuh mayat laki-laki tersebut memang ditemukan ada darah yang mengering dan dikerubuti semut di bagian telinga korban. Tapi belum dipastikan darah tersebut akibat dari tanda-tanda penganiayaan.
Hasil olah TKP, petugas juga menemukan satu karung berisi pepaya yang telah masak. Diduga pepaya tersebut diambil dari lokasi kebun pepaya milik Slamet.
"Satu karung kates (pepaya) tersebut itu diduga diambil dari lahan kebun pepaya. Di dekatnya juga ada sepeda motor milik korban," jelasnya.
Dari hasil pengecekan petugas memang menemukan bekas buah pepaya yang baru dipetik. Sejumlah pohon yang tangkainya baru dipetik telah diberi penanda police line penyidik Polsek Pesantren.
• Mayat Pria Ditemukan Warga di Tengah Kebun Pepaya, Motor dan Pepaya di Karung Masih Utuh
Petugas bakal meminta keterangan sejumlah saksi termasuk pemilik lahan kebun pepaya untuk mengetahui penyebab kematian korban.
Sementara dugaan korban meninggal sudah cukup lama karena kondisinya tubuhnya sudah mulai kaku dan darahnya sudah kering. "Diperkirakan korban sudah meninggal tengah malam. Karena saat dilaporkan kepada petugas kondisinya sudah kaku," jelasnya.
Saat ditemukan pertama kali oleh Sutrisno, korban Joko dalam kondisi terlentang memakai celana dan kaos warna hitam dengan logo swastika di sebelah kiri. Korban juga memakai topi hitam yang dipakai dalam posisi terbalik.
Joko sebelumnya berdomisili di Kelurahan Banaran, namun kemudian setelah menikah pindah rumah ke Desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Korban juga masih sering ngobrol di warung Kelurahan Banaran.
Dari TKP penemuan mayat penyidik telah mengamankan barang bukti satu karung berisi buah pepaya masak serta sepeda motor korban Suzuki Smas nopol AG 4530 BC yang diduga milik korban. Sementara.mayat korban dibawa ke RS Bhayangkara untuk divisum.