Murid TK dan Paud Patungan Untuk Pembangunan Monumen Garuda Pancasila

Anak-anak TK dan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kediri urunan (patungan) secara sukarela membangun Monumen Garuda Pancasila.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Yoni Iskandar
surya/Didik Mashudi
Bangunan Monumen Garuda Pancasila di halaman Rumah Persada Sukarno di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Rabu (8/2/2017). 

Laporan Wartawan Surya, Didik Mashudi

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Puluhan murid TK dan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kediri urunan (patungan) secara sukarela membangun Monumen Garuda Pancasila.

Bangunan monumen ini ada di halaman Rumah Persada Sukarno Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

"Ada ratusan anak-anak TK dan PAUD di Kecamatan Wates yang menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membangun Monumen Garuda Pancasila," ungkap Kushartono, pengelola Situs Rumah Persada Sukarno kepada TribunJatim.com , Rabu (8/2/2017).

Diungkapkan Kushartono, selain urunan anak-anak TK dan PAUD, para pekerja yang membangun monumen tidak ada yang dibayar.

"Semua pekerjanya relawan yang ingin mewujudkan Monumen Garuda Pancasila," ungkapnya kepada TribunJatim.com .

Monumen Garuda Pancasila ini telah diderek ditempelkan di dinding monumen setinggi 7 meter. Rencananya di dada monumen nanti akan ada perisai Pancasila.
Dijelaskan, uang hasil urunan anak-anak TK dan PAUD tahap pertama terkumpul Rp 700.000 dan tahap kedua Rp 800.000.

Panitia juga menerima sumbangan dari tokoh lintas agama dan Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTAI).

"Untuk biaya material pembuatan patung tidak pernah dihitung karena semua material yang dibutuhkan mengalir sesuai dengan kebutuhan," jelasnya.

Sehingga bantuan selain uang tunai dari anak-anak juga bantuan material dari masyarakat. Bangunan monumen sendiri diharapkan mampu mewujudkan cinta tanah air dan meningkatkan rasa nasionalisme.

Rumah Persada Sukarno merupakan rumah tempat masa kecil Bung Karno tinggal di Kediri. Malahan di rumah kuno itu menjadi saksi pergantian nama Bung Karno dari Koesni menjadi Soekarno.

Saat tinggal di Kediri terungkap pula misteri peci miring yang selalu dikenakan Bung Karno.

Peci miring dikenakan Bung Karno untuk menutupi bekas luka yang ada di keningnya. Konon luka itu akibat terjatuh saat memanjat pohon Kepuh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved