Santri Tenggelam
Awalnya Sepupu Rusydi Tak Percaya, Tapi Usai Telepon Ternyata Kabar yang Didengar Mengejutkan
Meninggalnya Muhammad Royi Amanulloh Rusydi (15) yang tenggelam di bekas kubangan, membuat sedih keluarganya di Surabaya.
Penulis: Sundah Bagus Wicaksono | Editor: Edwin Fajerial
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sundah Bagus Wicaksono
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Meninggalnya Muhammad Royi Amanulloh Rusydi (15) yang tenggelam di bekas kubangan, membuat sedih keluarganya di Surabaya.
Sepupu Royi Amanulloh Rusydi, Pipit Fitria (33), bercerita awalnya ada orang yang mengabari jika ada orang atas nama Rusydi mengalami kecelakaan dengan datang ke rumah Royi di Jalan Jemur Wonosari Gang Lebar Nomor 138, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur.
"Awalnya banyak yang ngabarin kecelakaan-kecelakaan seperti itu kepada keluarga tapi saya tidak percaya jadi saya gak gubris orang tadi," ujar Pipit kepada TribunJatim.com, di rumah duka, Jalan Jemur Wonosari Gang Lebar Nomor 138, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis (18/5/2017).
Meski tak percaya, tapi Pipit tetap penasaran ingin mengecek kebenaran berita itu.
Pipit kemudian menelepon ayah Rusydi, Agus Abdul Hayyi atau yang biasa dipanggil Gus Hayyi untuk memastikannya, namun teleponnya tidak diangkat.
Lalu, Pipit mencoba lagi dengan menelepon istri Gus Hayyi, Nur Rosidah, diangkat.
Tapi, Pipit kemudian mendengar melalui sambungan telepon, Nur Rosidah sedang menangis.
"Beliau sudah mengetahui kalau putranya benar-benar meninggal baru menyuruh saya membuka rumahnya yang sebelumnya melarang membuka rumah duka sebelum ada informasi yang jelas," imbuh Pipit.
Pipit menjelaskan sebelum meninggal, Rusydi sempat pulang ke rumah setelah mengikuti ujian nasional (unas) di sekolahnya.
"Rusydi sempat pulang habis unas lalu kembali lagi ke Gresik karena ada kegiatan rekreasi/outbond, biasa kan setelah ikut ujian yang melelahkan mereka senang-senang," lanjut Pipit.
Enam santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin, Kabupaten Gresik tewas di lahan bekas tambang di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kamis (18/5/2017).
Kejadian tragis ini berawal ketika sekitar 300 orang santri dari salah satu Ponpes terbesar di Gresik yang berada di Jalan KH Syafii, Desa Suci Kecamatan Manyar tersebut mengadakan outbond di lahan bekas tambang di desa setempat, yang berada di dekat lokasi pondok.
Saat itulah, tiba-tiba ada sejumlah santri yang nekat menceburkan tubuhnya ke telaga bekas tambang.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, ada tujuh santri yang menceburkan diri ke telaga.
"Nah, saat nyebur ke bekas tambang itulah, enam orang santri meninggal dunia," ujar seorang saksi.
Saat ini, dari enam korban meninggal, sudah ada lima jenazah santri yang dibawa ke Kamar Jenazah RSUD Ibnu Sina, Kabupaten Gresik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-surabaya-santri-tenggelam_20170518_203849.jpg)