Perkaya Informasi Kepurbakalaan Penanggungan Melalui Rumah Peradaban

Banyaknya situs purbakala yang mulai hilang karena kerusakan alam, Ubaya Penanggungan Center (UPC) bersama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional membuka

Penulis: Rorry Nurmawati | Editor: Yoni Iskandar
TribunJatim/ Rorry Nurmawati
Dialog saat workshop Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan di Ubaya Penanggungan Center (UPC) bersama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dan BPCB Jatim. 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Banyaknya situs purbakala yang mulai hilang karena kerusakan alam, Ubaya Penanggungan Center (UPC) bersama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional membuka Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan.

Tujuannya untuk mensosialisasikan hasil pendataan ulang situs yang ditemukan di Penanggungan atau Gunung Pawitra kepada masyarakat luas.

Maksud dari Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan sendiri adalah merupakan tempat pusat informasi dan penelitian terkait keberadaan situs yang ada di Penanggungan. Situs Gunung Penanggungan menempati posisi yang terbilang istimewa dalam sejarah kebudayaan Indonesia.

Gunung yang di masa lalu dianggap suci ini, banyak dijumpai bangunan purbakala dalam berbagai bentuk dan jenisnya.

Banyaknya situs hasil dari penelitian yang sudah dilakukan sejak jaman Hindia Belanda sekitar tahun 1930-1940 telah ditemukan sebanyak 81 situs.

Sayangnya pada saat perang dunia dan kemerdekaan data tersebut tidak tercatat secara resmi dan diterbitkan, yang akhirnya hilang. Baru kemudian sekitar tahun 1950, ada upaya untuk mengembalikan situs yang selama ini telah ditemukan.

"Tahun itu, ada sekitar 51 situs yang tercatat. Sedangkan 81 situs lainnya tidak pernah tercatat. Ini terjadi saat masa perang kemerdekaan. Baru kemudian di tahun 2012, ada 60 situs yang telah ditemukan, dan jumlah tersebut terus naik setiap tahunnya. Hingga pada akhir 2015 total situs yang telah ditemukan mencapai 112," kata Staf Ahli Tim Ekspedisi Ubaya Hadi Sidomulyo, Kamis (18/5/2017).

Hingga saat ini, total keseluruhan situs yang telah ditemukan di Penanggungan sebanyak 198. Jumlah ini terhitung sejak lima tahun terakhir melakukan ekspedisi penelitian dan pengkajian. Oleh karena itu, dengan adanya Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan, masyarakat bisa turut melestarikan dan menjaga keberadaan situs yang masih tersimpan apik di Penanggungan.

Dari 198 situs yang telah ditemukan, Hadi tak menampik bila keberadaannya mulai berubah. Artinya, kondisi alam seperti longsor, atau bencana alam lainnya, membuat kontruksi bangunan situs berubah.
"Berubah bukan hilang. Mungkin dulu bisa hilang ketika tahun 1989-an, itu tahun paling tragis saat banyak situs yang sengaja diambil alias tangan jahil. Kalau sekarang tidak, justru situs rusak karena faktor alam," jelasnya.

Baca: Ibu Muda Tercantik Satu Kota Alami Luka Bakar, Perubahan Wajah dan Hidupnya Bikin Nangis

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Andi Muhammad Said Andi menambahkan, Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat terkait situs peninggalan di Penanggungan. Pembagian informasi tersebut meliputi, keberadaan situs mulai dari lereng, bukit, puncak hingga kaki gunung Penanggungan.

"Ini menjadi tempat informasi apa saja yang ada di Penanggungan yang kemudian ditampakkan melalui wadah informasi secara khusus. Kenapa ini menjadi penting, karena kita punya catatan dari Belanda yang mengatakan ada situs sebanyak 60, tetapi ketika kita eksplor lebih dalam ternyata ada 100 situs yang ditemukan," jelasnya.

Kegiatan workshop Rumah Peradaban Situs Gunung Penanggungan yang diikuti oleh para pelajar SMA dan guru sejarah di kawasan Mojokerto, Surabaya dan sekitarnya ini juga mengajak berjelajah di kawasan situs. Seperti Gapura Jedong dan Pema Dian Jolotundo.

Situs Gapura Jedong ini terletak di kaki lereng utara Gunung Penanggungan. Tepatnya di Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Di situs ini terdapat dua buah bangunan gapura kuno tipe paduraksa atau gapura yang memiliki atap di atas pintu masuknya.

Sedangkan gapura satunya di sisi selatan memiliki ukuran lebih besar. Kedua gapura tersebut membujur utara hingga selatan, yang tersusun dari batu-batu andesit.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved