Petani Bangkalan Manfaatkan Air Melimpah untuk Mengatrol Harga Gabah
Melimpahnya ketersediaan air di lahan persawahan Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan dimanfaatkan betul oleh para petani setempat.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM,BANGKALAN - Melimpahnya ketersediaan air di lahan persawahan Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan dimanfaatkan betul oleh para petani setempat.
Mereka memanen padi ketika persediaan gabah milik petani desa lainnya telah habis. Sehingga, harga gabah kering milik para petani di desa tersebut terjual lebih tinggi.
Lahan persawahan dengan pasokan air melimpah seluas sekitar 50 hektare. Kondisi itu tidak terjadi pada lahan - lahan persawahan petani desa lainnya yang rata - rata bersifat tadah hujan.
Moh Amin (43), petani asal Desa Langkap mengatakan, melimpahnya pasokan air itu lantaran puluhan hektare area persawahan itu berdekatan dengan sungai. Sehingga, ia bersama petani lainnya bisa mengawali dan mengakhiri masa tanam dua kali.
"Kami mengawali masa tanam pertama di bulan Oktober dan panen di bulan Januari. Sedangkan tutup tanam dilakukan pada Mei, seperti sekarang ini," ungkapnya, Minggu (28/5/2017).
Ia menjelaskan, tanam penutup kali ini akan menuai hasil panen gabah pada Agustus mendatang. Di mana, harga gabah kering terdongkrak mahal lantaran masa panen petani lainnya terjadi di bulan April.
"Kalau bulan April, gabah melimpah. Sementara gabah kami akan siap di bulan Agustus. Ketika November petani lainnya tanam, kami punya simpanan gabah hasil panen Agustus," pungkasnya.
Masa tutup tanam dilakukan para petani Desa Langkap pada Rabu (24/5/2017). Mereka mulai menanam dengan sistem seperti biasa, jajar legowo dikombinasikan dengan sistem garis. Diperkirakan, panen dilakukan pada Agustus.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bangkalan Abdullah Fanani mengemukakan, keputusan para petani Desa Langkap mengawali dan mengakhiri masa tanam dua kali tanam layak diapresiasi.
"Kelompok tani di Desa Langkap cerdas, mampu memanfaatkan ketersediaan pasokan air. Mereka mengawali dan mengakhiri dua kali masa tanam. Ketika para petani lainnya takut melakukannya," ungkap
Ia menjelaskan, mereka mulai tanam pertama pada Oktober ketika para petani di desa lainnya menanam di bulan Nopember. Sehingga, mereka mendahului masa panen dan mampu mendongkrak harga gabah kering mereka karena petani lainnya belum panen.
"Gabah kering milik mereka bisa laku Rp 8.000 per kilogram. Sementara harga normalnya berkisar Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per kilogram. Dikarenakan saat itu, hanya mereka yang punya gabah," jelasnya.
Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangkalan itu mengatakan, dengan lahan tanam seluas 50 ribu hektare, produksi padi di laham mereka mampu mencapai 250 ribu ton.
"Per hektare nya mampu menghasilkan lima ton gabah. Ini trik bagus untuk bisa membantu pendapatan mereka," katanya.
Berdasarkan klasifikasi kawasan pertanian yang dibuat Kementrian Pertanian di tahun 2016, Bangkalan menjadi satu - satunya kabupaten di Madura sebagai kawasan padi. Di mana, komositas tanaman utama di lahan pertanian Bangkalan adalah padi.
Baca: Belum Bayar Proyek Alun alun Pejabat BLH Dilaporkan Kejaksaan Madiun
Keberadaan total lahan pertanian seluas sekitar 126.931,4 hektare, dengan rincian 29 ribu lahan sawah dan sisanya lahan kering. Dengan lahan sawah seluas itu, produksi padi Kabupaten Bangkalan mencapai rata - rata 250 ribu ton per panen.
Fanani menambahkan, Kabupaten Bangkalan telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Perlindungan Lahan Pertanian untuk melindungi dan memberikan batasan dalam pengembangan pembangunan di Kabupaten Bangkalan.
"Setelah Jembatan Suramadu diresmikan, ada beberapa hektare lahan pertanian yang dialih fungsikan. Namun kami imbangi dengan penambahan area tanam baru," pungkasnya. (Surya/ Ahmad faisol)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-bangkalan-petani-menanam-padi-bareng-tni_20170528_185538.jpg)