Kampus di Surabaya

Jenazah Guru Besar Unair, Prof Dyson Baru Dimakaman Usai Kerabatnya dari Semarang Datang

Rangkaian bunga ucapan bela sungkawa terus berdatangan ke Ruang VIP Yayasan Adi Jasa.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Edwin Fajerial
SURYA/SULVI SOFIANA
Jasad Prof Dr Laurentius Dyson Penjalong MA saat disemayamkan di ruang VIP yayasan Adi Jasa, Kamis (29/6/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Rangkaian bunga ucapan bela sungkawa terus berdatangan ke Ruang VIP Yayasan Adi Jasa.

Rangkaian bunga dari kolega, kerabat hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terpampang di luar tempat bersemayamnya Guru Besar Unair, Prof Dr Laurentius Dyson Penjalong MA.

Jasad Prof Dyson, sapaan akrabnya disemayamkan sejak pukul 14.30 WIB pada Kamis (29/6/2017) setelah dinyatakan meninggal di Graha Amerta RSUD Dr Soetomo, Rabu (28/6/2017) malam.

Rencananya, jasad akan dimakamkan di TPU Keputih pada Sabtu (1/7/2017).

Baca: Guru Besar Unair, Prof. Dyson Meninggal, Ini Dia Sosoknya Dimata Mahasiswanya: Perhatikan Kerapian

Puta bungsu Prof Dyson, Nikolas Dio (24) mengungkapkan jasad ayahnya disemayamkan sambil menunggu keluarga dari Samarinda.

Sementara putri bungsu Prof Dylon, Laurensia Yoan (30) dan istri Prof Dyson, Remanitha Beetz (60) berada di rumah duka di kawasan Semolowaru.

Pekan Idul Fitri, menurut Dio, sapaan akrabnya membuat keluarga intinya sudah berkumpul di rumah.

Termasuk kakaknya yang selama ini bekerja di Bank Indonesia, Jakarta.

“Papa tidak pernah punya riwayat sakit kronis, pernah di opname juga waktu kecil kena malaria. Tapi sejak Maret sudah masuk ICU Unair karena demam berdarah dan penumpukan cairan dijantung dan paru-parunya,” ungkap pria yang baru saja diterima sebagai mahasiswa baru Pasca Sarjana Unair tersebut pada SURYA.co.id.

Sejak Maret, kondisi Prof Dyson menurutnya sempat membaik bahkan pulang ke rumah.

Namun karena sesak nafas, Prof Dyson kembali dilarikan ke rumah sakit bahkan di rujuk hingga Graha Amerta RSUD Dr Soetomo.

“Tidak ada pesan atau firasat apapun, karena papa biasa saja. Ya masih ngobrol biasa,malah masih tanda tangan tesis mahasiswa bimbingannya. Beliau kasihanbkalau mahasiswanya tertunda studinya kalau dia sakit,”ujarnya.

Prof Dyson meninggalkan satu istri dan dua anaknya.

Kebiasaan guru besar bidang Antropologi yang masih melekat dalam ingatan Dio adalah kebiasaan bangun pagi, pukuk 04.00 dan membuat kopi sendiri.

“Bapak sosok yang pekerja keras, nggak pernah capek. Beliau juga menekankan agar anaknya selalu jujur dan jangan takut berbuat baik,”pungkasnya. (Surya/Sulvi Sofiana)

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved