Gus Dur Ultah, Aktivis Lintas Iman Merayakan Dengan Cara Unik ini

Perayaan untuk napak tilas perjuangan Gus Dur yang dikenal tokoh humanisme dan pluralisme.

Penulis: Sutono | Editor: Mujib Anwar
SURYA/SUTONO
Puluhan aktivis lintas agama di Jombang, saat merayakan HUT mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sabtu (5/8/2017) malam. 

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Puluhan anak muda aktivis lintas iman merayakan ulang tahun mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-77 di sebuah kafe di Jombang, Sabtu malam (5/8/2017).

Mereka mengambil spirit perjuangan Presiden RI ke-4 yang dikenal sebagai tokoh humanisme dan pluralisme ini untuk merefleksikan situasi aktual Indonesia, yang dinilai belum memberi keadilan kepada kelompok minoritas.

"Kelompok LGBTI (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender/Transsexual and Intersexed) mengalami diskriminasi dan kekerasan. Keberadaan kami dipandang sebelah mata," ujar Parjo, aktivis keragaman gender dan seksualitas, membuka refleksinya.

(Kaget Bus Nyalip Sembarangan, Motor ini Masuk Kolong, Bus Terbakar dan Hiii Mengerikan)

Himpitan intoleransi berbasis agama juga dirasakan Vivi, perempuan Kristen yang tengah menyelesaikan studi teologi.

Dia mengaku tengah berjuang untuk mempromosikan toleransi dan keberagaman di wilayah Kecamatan Gudo Jombang.

"Tantangannya berat. Kami sering disalahpahami oleh masyarakat. Padahal kami tidak seperti yang mereka bayangkan," tandas Vivi.

Sosok Gus Dur juga menginspirasi Yulius, calon pendeta Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Dirinya meyakini ajaran Kristen memungkinkan Tuhan merepresentasi pada sosok pilihan.

"Bagi kami, selain Yesus, Gus Dur adalah medium untuk bisa memahami kehendak Tuhan," katanya.

(Masuk Kamar Mandi, Mahasiswa Religius ini Putar Lagu Cepat Masuk Surga, Tak Tahunya)

Kiprah Gus Dur dalam membela minoritas, menurut Yulius, bukti nyata ia logos Tuhan yang harus diteladani.

Logos salah satu konsep kunci di dalam Kristen. Kata Logos erat berkaitan dengan penciptaan, kristologi, soteriologi dan teologi.

Sosok Kristus seringkali diidentikkan dengan Logos atau firman yang menjadi daging di dalam teologi Kristen.

Koordinator acara, Aan Anshori, menegaskan pentingnya figur panutan untuk melawan berbagai ketidakadilan di Indonesia yang terjadi hingga hari ini.

"Gus Dur adalah satu-satunya presiden sekaligus kiai yang berani bersikap adil dalam Kejahatan 1965," tegas alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang ini.

(Modal Bonek, Zhou Qunfei Akhirnya Jadi Perempuan Terkaya Sedunia, Begini Lika-liku Perjuangannya)

Acara berlangsung hikmat di bawah penerangan nyala sejumlah lilin, dihadiri perwakilan dari Gereja Bethany Gudo, Gereja Sidang Pantekota di Indonesia (GSPdI), GUSDURian Jombang dan Mojokerto, Gubug Sebaya, dan perwakilan GKJW.

Di akhir acara, seluruh hadirin menyanyikan Satu Nusa Satu, berdoa bersama dan kemudian dilanjutkan menikmati tumpeng sebagai santap malam. (Surya/Sutono)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved