Awas, Tetap Hati - Hati Dengan Ali Fauzi, Adik Trio Bomber Bali

Umumnnya tahu kalau Ali Fauzi adik trio Bomber Bali itu dikenal baik wartawan. Dibalik keramahannya dengan wartawan, ternyata mantan pentolan Jamaah I

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Yoni Iskandar
Surya/Hanif manshuri
Ali Fauzi duduk berdampingan dengan Yusuf Anis (baju putih) 

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Umumnnya tahu kalau Ali Fauzi adik trio Bomber Bali itu dikenal baik wartawan. Dibalik keramahannya dengan wartawan, ternyata mantan pentolan Jamaah Islamiyah (JI) ini juga membenci wartawan.

Bahkan mantan instruktur perakit bom ini dengan serta merta tak mau lagi diwawancarai wartawan.

"Saya paling benci dengan wartawan seperti itu," tegas Ali Fauzi, pendiri Lingkar Perdamaian saat ngobrol dengan Surya, Kamis (24/8/2017).

Bahkan lantaran begitu bencinya, saat hendak ketemupun langsung ditolaknya. Jangankan jumpa darat, saat diteleponpun tidak sudi mengangkatnya.

"Itu oknum wartawan yang nggak ngerti apa - apa. Nanyanya ngawur," ungkapnya.

Makanya, siapapun anda jika ada insiden peledakan bom, jangan pernah memunculkan pertanyaan, apakah itu pengalihan isu, atau mungkin rekayasa aparat ?

Pasti sang lawan bicara Ali Fuazi akan menuai kekecewaan besar. Ditinggalkan dan sama sekali tidak merespon, termasuk dikemudian hari.

Menurutnya, hampir dipastikan wartawan yang baru belajar atau tak memahami pola teroris, pertanyaannya seputar apa ini bukan pengalihan isu, rekayasa polisi, operasi inteljen untuk melemahkan umat Islam dan upaya came back TNI untuk berkuasa kembali dan lain - lain pertanyaan yang tak berkualitas.

Terus terang, katanya, kalau model pertanyaan semacam itu, ia biasanya malas melayani.

"Hanya pesan saya belajar dulu tentang mapping kelompok teroris di Indonesia. Baru nanti bisa tanya pada saya," ungkapnya.

Karena sejatinya, kelompok teroris itu punya motivasi kuat dan besar, punya jaringan yang tertata dan senyap termasuk tujuan dan visi misi.

"Saya hampir bisa mengenali semua insan media yang sudah faham tentang teroris, maka model pertanyanya ilmiyah bernilai edukasi," katanya.

Ia hanya meminta insan pers hati - hati jika ingin bertemu atau wawancara dengannya. Ia tidak ingin kecewa dan mengecewakan.

Memang menjadi tantangan bersama dalam menyamakan prespektif masyarakat terhadap penanganan terorisme. Banyak masyarakat yang mempunyai faham bahwa terorisme sengaja diciptakan oleh oknum negara bahkan lebih ironi di level civitas akademika masih berprasangka bahwa itu rekayasa.

"Pengalaman saya keliling Indonesia mengajarkan tentang hal itu," ungkapnya.
Namun setelah mendengar paparan yang ia beberkan tentang sejarah idiologi, pola aksi, rekrutmen kelompok teroris

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved