Pondok 99 Mojokerto, Pesantren Khusus Psikotik dan Pecandu Narkoba
Meski mengalami gangguan kejiwaan, namun sikap mereka sangat ramah terhadap tamu yang datang.
Penulis: Rorry Nurmawati | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Pada umumnya, orang penderita psikotik atau kurang waras selalu dianggap sebelah mata bagi sebagian masyarakat lainnya.
Namun, hal itu tidak berlaku di Pondok 99 Dusun Pandantoyo, Desa Pandankrajan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Di sini, puluhan orang yang mengalami gangguan jiwa justru dirawat hingga sembuh.
Tempat rehabilitasi dengan metode islami ini, terletak delapan mil jauhnya dari pusat Pemerintahan Kabupaten.
Di tempat ini, tidak hanya pria dan wanita dewasa saja yang dirawat secara serius, melainkan juga anak-anak yang baru beranjak dewasa.
Tidak ada metode khusus dalam merawat para 'santri' ini. Pihak pondok hanya mengajari mereka untuk salat lima waktu secara berjamaah, ditambah, salat sunah seperti salat tahajjud bagi yang bersedia.
Meski mengalami gangguan kejiwaan, namun sikap mereka sangat ramah terhadap tamu yang datang.
"Sebenarnya mereka punya tata krama, jadi sifat dasar itulah yang selalu kami kembangkan disini. Lihat saja gak ada yang pernah marah-marah," kata Sariasih.
Mayoritas penghuni di Pondok 99, lebih banyak didominasi oleh para penderita psikotik dibandingkan dengan gangguan jiwa. Bahkan, saat awal-awal penghuni masuk karena kecanduan narkoba, sering kali mengalami sakau.
"Yang narkoba itu, awalnya sering sakau, suka teriak-teriak, termasuk Yogi," terang Sriasih.
Rata-rata, penderita gangguan jiwa diantarkan keluarga sendiri ke tempat penampungan. Bahkan tidak jarang, para penghuni tersebut justru sengaja ditinggal di Pondok 99.
"Semuanya tergantung sama keluarga, ada yang sudah sembuh tapi keluarga masih ingin menitipkan di sini, juga ada," kata Pengasuh Pondok 99 Sriasih saat ditemui Surya, Kamis (12/10/2017).
Sayangnya di Pondok 99 ini, Sriasih tidak bisa menampung penderita gangguan jiwa terlalu banyak. Sebab, ia hanya memiliki tujuh ruangan kamar dan satu musala. Ya, keterbatasan ruangan dan tenaga, membuat Sriasih hanya berani menampung psikotik sebanyak 35 orang saja. "Satu ruangan untuk kamar perempuan dan enam lainnya untuk laki-laki," imbuhnya.
Selama ini, untuk biaya perawatan mereka, Sriasih mendapatkan uang dari keluarga penderita. Setiap harinya, satu orang pasien mendapatkan jatah Rp 25 ribu untuk memenuhi kebutuhan, seperti tiga kali makan, cemilan dan beberapa hal lainnya.
"Ada sayur, lauk, nasi, susu dan buah. Kami memberikan yang terbaik kesembuhan mereka," terang perempuan 38 tahun ini.
Dia menjelaskan, pondok tersebut didirikan bersama suaminya, Suwoto (66), tahun 1999 silam. Awalnya, pondok untuk nyantri seperti pondok pesantren pada umumnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-mojokerto-santri-narkoba-dan-ganggunag-jiwa_20171012_193237.jpg)