Ingin Awet Muda dan Panjang Umur, Nikmati Pulau Giliyang Sumenep, Kadar Oksigen Terbaik Kedua Dunia

Karena sebagian penduduk setempat juga pengrajin aksesoris yang banyak dijual di lokasi wisata di Bali.

Penulis: Moh Rivai | Editor: Yoni Iskandar
istimewa
Pulau Giliyang 

 TRIBUNJATIM.COM, SUMENEP - Bagi kita yang suka travelling ke tempat-tempat wisata, di luar negeri, kerapkali kita hanya dihadapkan dengan tempat tempat belanja atau tempat wisata yang tidak merasakan manfaat langsung bagi tubuh, apalagi kesehatan kita.

Namun kali ini kita mencoba mencoba travelling ke lokasi wisata alam yang dapat kita menikmati manfaat alamnya, yakni ke Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep Madura.

Pulau yang memiliki luas 9,15 km dengan 8.060 jiwa penduduk terbagi di dua desa, yakni Desa Banraas dan Desa Bancamara, memiliki kandungan udara yang bebas polusi karena kandungan oksigen tertinggi kedua di dunia, setelah Yordania.

Itu dibuktikan dengan hasil penelitian tim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Antariksa Penerbangan dan LAPAN akhir Juli 2006 lalu, dan akhir dan dimutakhirkan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLP) Surabaya pada bulan Mei 2013 lalu, kandungan oksigennya pada pukul 11.00 Wib, mencapai 20.9% yang lebih tinggi dari baku normal. Sedangkan kandungan karbondioksida (C02) mencapai 30.2%, atau lebih rendah dari baku normal.

‘’ Pulau Giliyang sangat cocok dijadikan sebagai obyek wisata kesehatan, dan ini satu-satunya obyek wisata kesehatan di Indonesia, di Asia atau bahkan di dunia. Karena oksigen terbaik cuma di Yordania dan di Indonesia yakni di Pulau Giliyang Sumenep,’’ ujar dr KH Abuya Busyro Karim, Bupati Sumenep.

Hasil penelitian, berkat kandungan udara oksigennya yang sangat tinggi itu, sebagian besar penduduk desa setempat umurnya panjang-panjang, bahkan banyak yang berumur diatas 90 tahun tapi masih sehat dan kuat bekerja di ladang pertanian dan nelayan.

" Pulau ini dikenal dengan pulau awet muda mas, karena penduduknya banyak berumur panjang,’’ timpal sofianto, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olah Raga, Kabupaten Sumenep.

Beberapa orang petinggi Negara ini berkali-kali berkunjung ke Pulau Giliyang. Diantaranya, Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi, Menteri Sosial, Khafifah Indar Parawansa dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

‘’ Usahakan nginap di pulau ini, karena pada malam harinya kita bisa menikmati udara malam yang sejuk, dan Insya Allah pagi harinya, ketika bangun tidur badan segar bugar,’’ seloroh, Menpora Imam Nahrawi saat berkunjung ke pulau tersebut.

Untuk berkunjung ke Pulau Giliyang tidaklah sulit, karena walaupun belum ada angkutan khusus wisata namun angkutan umum cukup tersedia. Dari kota Sumenep kita bisa menggunakan jasa Mobil Penumpang Umum (MPU) yang setiap saat ada dari kota Sumenep menuju Pelabuhan Bintaro Dungkek dan dengan hanya cukup bayar Rp. 15.000 per orang.

Dan bila anda, mengunakan mobil atau motor pribadi, jalan dari kota Sumenep ke Pelabuhan Bintaro Dungkek cukup mulus dan memerlukan waktu tempuh sekitar 35 menit.

Baca: Di Hotel Alexis, Pemijat Asal Luar Negeri Dipasangi Tarif Rp 2,4 Juta


Dari pelabuhan Bintaro Dungkek menuju Pulau Giliyang, juga sudah banyak perahu motor milik warga Pulau Giliyang yang memang melayani penumpang regular dari Pelabuhan Bintaro Dungkek ke Pulau Giliyang. Tarifnya pun murah, hanya Rp 10.000 per orang.

Tetapi bila kita ingin menggunakan perahu khusus atau perahu carteran juga tersedia. Untuk perahu berkapasitas 30 orang, harga sewa pulang pergi hanya Rp 400.000 hingga Rp 500,000. Tetapi ada juga perahu ukuran kecil yang kapasitasnya hanya sekitar 10 sampai 15 orang, kita hanya cukup membayar Rp 250.000.

Waktu tempuh perjalanan laut dari Pelabuhan Bintaro Dungkek ke Pulau Giliyang hanya sekitar 45 menit, jika cuaca laut normal. Tapi kalau sedikit berombak, waktu tempuh bisa sampai 1 jam.

"Jarang mas ada ombak besar kalau perjalanan dari Pelabuhan Bintaro Dungkek ke Pulau Giliyang, karena dekat dan berada di sebelah timur pulau Madura,’’ kata Abdul Kafi pemilik perahu asal Pulau Giliyang.

Ketika sudah tiba di Pulau Giliyang, kita akan diantarkan oleh kendaraan roda tiga atau yang dikenal dengan odong-odong atau ada juga yang menyebut Dorkas.

Odong-odong ini akan mengantarkan kita ke tempat yang kita tuju khususnya ke lokasi titik keberadaan oksigen tertinggi di pulau itu. Atau juga mengantarkan kita ke tempat penginapan.

Memang belum ada hotel di pulau Giliyang, tetapi saat ini sudah ada penginapan atau homestay satu-satunya di Pulau Giliyang, tetapi banyak juga penduduk setempat yang menyewakan rumah warga tempat tinggalnya bagi wisatawan.

Kita bisa mencari rumah sewa di dekat titik oksigen atau dekat pelabuhan Pulau Giliyang.

‘’ Bisa juga kita pesan makan khas masyarakat setempat, seperti rujak, soto, mie instan termasuk juga makanan khas tradisional, seperti nasi putihdan jagung, ikan tongkol atau jenis ikan laut lainnya pun tersedia,’’ kata Rahmat HIdayat warga Pekalongan, Jawa Tengah yang sudah tiga hari di pulau Giliyang.

Oleh-oleh makanan khas berupa kerupuk udang dan kerupuk ikan suda tersedia juga. Bahkan handycraft berupa aksesoris berbahan kulit dan manik-manik, cincin, kalung dan gelang tangan yang terbuat dari kerang, sabut kelapa, juga tersedia.

Karena sebagian penduduk setempat juga pengrajin aksesoris yang banyak dijual di lokasi wisata di Bali.

Selain obyek wisata kesahatan yang sudah sangat terkenal ini, wisatawan juga bisa melihat obyek wisata alam lainnya, seperti Gua Air yang didalamnya mengalir air.

Wisata Tebing curam di sebelah timur Pulau Giliyang, dan Bentang Tempo yang terdiri dari susunan batu hitam merupakan peninggalan Daeng Massalle penduduk pertama di Pulau Giliyang, asal Sulawesi.




Berwisata ke Pulau Giliyang, tidak saja bagi wisatan yang segar bugar, tetapi kali ini sudah banyak didatangi oleh beberapa orang yang sedang menderita penyakit. Banyak diantara mereka yang datang berkunjung dan menginap berhari-hari di Pulau Giliyang adalah mereka yang menderita kanker paru-paru, asma dan infeksi pernapasan akut, bahkan penyakit jantung. (Surya/Moh Rifai)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved