Seharusnya Selamat dari Bencana di Pacitan, Pria Ini Malah Tewas, Istri Ungkap Perbuatannya di Kamar
Saat musibah itu berlangsung. Satiman malah berada di dalam kamar. Sang istri ungkap kelakuannya.
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Januar
TRIBUNJATIM.COM, PACITAN - Beberapa waktu lalu, masyarakat dihebohkan oleh adanya sebuah peristiwa.
Peristiwa itu berupa musibah longsor dan banjir di Pacitan, Jawa Timur.
Sejumlah orang pun menjadi korban.
Satu di antaranya adalah Satiman.
Baca: Lihat Konsep VCR MAMA 2017 di Jepang Samai Konsernya, Begini Reaksi Para Member EXO
Baca: Gelar Celebration Game Dalam Waktu Dekat, Persebaya Belum Tentukan Waktu Pertandingan?
Satiman tewas saat musibah itu terjadi.
Setelah empat hari pencarian dengan cara manual, upaya warga mengevakuasi jasad Satiman membuahkan hasil.
Jenazah warga Dusun Penggung, Desa Penggung, Kecamatan Nawangan yang menjadi korban longsor di Pacitan pada Selasa (28/11/2017) akhirnya ditemukan.
"Barusan sudah ditemukan sekitar pukul 13.30 WIB, saat ini mungkin sudah mau dibersihkan untuk dimakamkan," kata Kepala Desa Penggung, Bolo Winarso (45) saat ditemui di Kantor Desa Penggung, Sabtu (2/12/2017) sore.
Baca: Satlantas Polres Buru Vespa Gembel Yang Berkeliaran di Lamongan
Baca: Heboh, Video Kekerasan yang Diterima Fans Saat Hadiri MAMA 2017 di Hongkong Tersebar
Dia menuturkan, pencarian sudah dimulai sejak Rabu (29/11/2017) oleh warga dibantu aparat Polisi, TNI.
Pencarian dilakukan scara manual, menggunakan cangkul, linggis, dan gergaji.
Dikatakannya, pihaknya kesulitan meminta bantuan pihak SAR lantaran komunikasi di Desa Penggung dan akses menuju Desa Penggung tertutup longsor.
Tidak mudah saat melakukan pencarian Jasad Satiman.
Sebab akses menuju ke rumah Satiman tertutup longsoran.
Warga juga harus waspada, karena tanah di sekitar lokasi masih begerak dan rumah Satiman berada di bawah bukit.
Warga khawatir ada longsor susulan karena cuaca di dusun Penggung juga berubah-ubah.
"Lamanya pencarian dikarenakan lokasi masih sangat berbahaya, kami harus berhati-hati. Apalagi hujan tidak menentu," kata Winarso.
Rumah Satiman berasa sekitar delapan kilometer dari Kantor Desa Penggung.
Tidak mudah untuk mencapai lokasi longsor karena banyak longsoran di jalan menuju lokasi.
Ia mengatakan, pria berusia 65 tahun tersebut tinggal di rumah dua lantai bersama istrinya Tinah, anak perempuannya Darsi, menantunya Seno dan cucunya Ariska. Istri dan anaknya mengalami patah tulang, dan saat ini dibawa ke rumah sakit di Solo.
"Tangan kanannya istrinya patah. Anaknya juga mengalami patah tulang, karena sempat tertimbun longsoran," katanya.
Dia menceritakan, semula Satiman sudah berlari keluar bersama istrinya namun kembali masuk ke dalam rumah.
Diduga, Satiman kembali masuk ke rumah karena ingin mengambil harta perhiasan yang berada di dalam kamar.
"Sudah sempat keluar, tetapi masuk lagi. Kemungkinan mau mengambil perhiasan," katanya.
Winarso mengatakan, di Desa Penggung terdapat 689 pengungsi dari delapan dusun. Saat ini, para warga terdampak bencana mengungsi di 11 titik pengungsian.
Ditanya, berapa jumlah rumah yang rusak akibat bencana longsor di desanya, Winarso mengaku belum melakukan pendataan secara detail.
Namun ada seratusan lebih rumah yang tidak mungkin ditempati lagi karena rawan longsor.
"Jalan poros penghubung Dusun Sengon dengan dusun Penggung sudah putus. Di bawah bukit terdapat 68 KK di Dusun Penggung dan 76 KK di Dusun Sengon yang tidak mungkin kembali ke rumah mereka, karena terancam longsor," imbuhnya.
(Rahadian Bagus)