Penyakit Pes Ancam Pasuruan, Seribu Tikus Jadi Bidikan, Padahal . . .

Gara-gara hal tak terduga, Pemkab Pasuruan berencana memasang jebakan tikus besar-besaran.

Penyakit Pes Ancam Pasuruan, Seribu Tikus Jadi Bidikan, Padahal . . .
lampost.co
Ilustrasi tikus 

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Pemkab Pasuruan berencana memasang jebakan tikus di beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Langkah tersebut, dilakukan untuk mengevaluasi dan mencermati, ancaman penyakit Pes yang dimungkinkan menjangkiti tikus.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Pasuruan, Agus Eko Iswahyudi mengancang-ancang untuk mencabut status kerawanan penyakit pes di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Maklum, kasus penyakit pes pernah mewabah di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Pasuruan. “Nah, kami ingin melakukan penilaian dan evaluasi yang tujuannya memastikan kawasan Kabupaten Pasuruan sudah terbebas dari pes,” kata Agus, Minggu (21/1/2018).

Ia menjelaskan, kasus penyakit pes pernah mewabah tahun 1987 silam. Saat itu, ditemukan ada 10 orang tewas yang terinveksi bakteri Yersinia Pestis tersebut. Inveksi itu disebarkan, tak lain oleh hewan pengerat, yakni tikus.

Sejak saat itulah, penanggulangan dan pemantauan terhadap ancaman penyakit ini gencar dilakukan. Bahkan, pemantauan dilakukan hingga sekarang.

“Ada empat kecamatan yang menjadi sasaran pemantauan. Yakni Tutur, Pasrepan, Puspo dan Tosari. Di empat kecamatan inilah, kasus pes itu ditemukan,” bebernya.

Dari pemantauan yang dilakukan, tak ada lagi temuan kasus pes. Karena itulah, pihaknya berencana untuk melakukan evaluasi. Hal ini ditujukan, untuk memastikan tidak adanya kasus pes di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Langkahnya, dengan melakukan penjebakan terhadap seribu tikus.

Rencananya, penjebakan seribu tikus itu, akan dilangsungkan dalam bulan-bulan ini. Tikus-tikus itu nantinya, akan diperiksa kondisinya.

“Apakah terjangkit pes atau tidak. Kalau tidak, maka Kabupaten Pasuruan bisa dikatakan bebas dari penyakit pes,” sambungnya. (Surya/Galih Lintartika) 

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved