6 Fakta Kehidupan Ayam Kampus, dari Bodi Aduhai Hingga Soal Tarif yang Dipatok Segini Karena Layanan
Berikut ini sejumlah fakta yang terkuak dari praktik prostitusi ayam kampus. Dari bodi yang aduhai, sampai tarif.
"Kalau Twitter kan gak ada ya group-group rahasia kayak di FB," ucapnya, beralasan.
4. Menjadi simpanan
Cinta, nama samaran, dirinya mengaku lebih nyaman menjadi pacar simpanan dibandingkan menjadi ayam kampus yang terang-terangan open BO.
Alasannya, karena tak perlu ganti-ganti pasangan yang dikhawatirkan membuat identitasnya cepat terbongkar.
Pertimbangan lain, ia merasa pundi-pundi uang yang didapat jauh lebih besar.
"Jadi kalau butuh uang tinggal minta, nggak perlu berhubungan seksual dengan beberapa pria (untuk mendapatkan jumlah tertentu)," tandasnya.
Dengan menjadi simpanan, Cinta merasa diopeni dan serba kecukupan dari segi finansial.
Setiap kali bertemu, ia diberi uang minimal Rp 1 juta dan paling banyak Rp 6 juta sekali kencan.
"Model transaksi, kalau ketemu pasti kasih, minimal Rp 1 juta-Rp 2 juta. Kadang tidak ketemu pun tiba-tiba ditransfer uang tanpa saya minta," imbuhnya.
5. Polisi sudah menciup praktik prostitusi
Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng pernah mengungkap fenomena serupa pada 2017.
"Yang kami tangkap mucikarinya, bukan perorangannya, karena mereka (mucikari-Red) merekrut perempuan untuk dipekerjakan," kata Dirreskrimsus Polda Jateng, Kombes Pol Lukas Akbar Abriari, Selasa (6/2) siang.
Lukas Akbar mengatakan kasus itu terjadi bulan April-Mei silam.
Anggotanya mendapati akun Twitter berlabel Wisata Asyik saat tengah melakukan patroli siber.
Akun tersebut memuat konten pornografi, sekaligus menawarkan jasa perempuan untuk dijadikan sebagai obyek seksualitas.