Tari Kolosal Meriahkan HUT Kabupaten Kediri 1.214

Tari kolosal yang melibatkan ribuan penari ditampilkan pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1.214.

Tayang:
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Yoni Iskandar
Surya/Didik Mashudi
Tari kolosal ditampilkan pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1.214 di kawasan Monumen SLG, Minggu (25/3/2018). 

 TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Tari kolosal yang melibatkan ribuan penari ditampilkan pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1.214.

Pagelaran kolosal ini berlangsung di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), Minggu (25/3/2018).

Ribuan penonton menyaksikan pagelaran dengan tertib dari balik pagar besi. Para penari ini tampil dari sisi barat, timur dan selatan.

Sementara tribun undangan dihadiri Bupati Kediri dr Haryanti Sutrisno bersama para pejabat Pemkab Kediri dan tamu undangan.

Penampilan pertama tari Gambyongan untuk menyambut tamu. Para penari gambyong ini tampil dengan lemah gemulai namun juga penuh energik.

Baca: Dua Bulan Bekerja, Popularitas Mbak Puti Meningkat Drastis, Bambang DH Sebut Ia Seorang ‘Fighter’

Disusul kemudian tari Kucingan Kediren dan Penthul Marucul yang melibatkan ratusan penari. Para penari tampil dari tiga sisi secara bersamaan.

Setelah sampai di karpet merah penari beraksi dengan gerakan yang atraktif secara bersama-sama. Penari serempak memperagakan gerakan bersama-sama.

Yang menarik juga ada tugu manusia bersusun tiga yang ditampilkan para penari. Sepuluh penari membuat lingkaran, kemudian tiga penari lainnya naik ke pundak penari di bawahnya. Kemudian satu penari naik lagi ke pundak ketiga penari.

Selanjutnya penari yang berada paling atas kenudian memainkan Gunungan Wayang dengan gerakan yang energik. Atraksi ini banyak mendapat aplaus penonton yang menyaksikan dari balik pagar.

Tarian Pentul Marucul menggambarkan pemuda desa yang sederhana, setia kawan serta jenaka.

Baca: Warga Menganti Gresik Keluhkan Sampah Menggunung dan Bau di Pinggir jalan

Tarian ini diinspirasi dari serial cerita Panji, karena Pentul Marucul merupakan perlambang dari para petinggi kerajaan yang ingin melihat langsung kondisi masyarakatnya.

Sehingga sang petinggi kemudian menyamar dengan topeng pentul untuk menghibur dan membahagiakan rakyatnya.

Sementara tarian Kucingan Kediren menggambarkan barongan singo barong yang gagah dan tegap.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved