Jumrotin, Pasien Tanpa Keluarga di RSUD dr Iskak Ternyata Pernah Ditolak Anaknya
erhitung sejak 11 April 2018 Jumrotin terbaring tanpa teman di sudut kamar rawat inap Flamboyan RSUD dr Iskak Tulungagung.
Penulis: David Yohanes | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Terhitung sejak 11 April 2018 Jumrotin (43) terbaring tanpa teman di sudut kamar rawat inap Flamboyan RSUD dr Iskak Tulungagung.
Selama dirawat karena stroke yang dialaminya tidak ada satu pun keluarga yang menjenguk, apalagi menemani.
Jumrotin mengaku sebelumnya berasal dari Desa sambidoplang, Kecamatan Sumbergempol.
Menurut Kepala Desa Sambidoplang, Agus Supriyadi, Jumrotin sudah lama meninggalkan desanya.
“Rumah dan tanahnya sudah dijual, dia kemudian menikah dengan orang Mojo (Kabupaten Kediri),” ungkap Agus.
Dari pernikahan ini Jumrotin mendapatkan dua anak.
Baca: Sebulan Wanita ini Terbaring di RumahRSUD dr Iskak Tulungagung Tanpa Keluarga
Lanjut Agus, Jumrotin sempat terlantar di Terminal Bus Gayatri Tulungagung.
Polisi sempat mengantar ke Sambidoplang, seperti pengakuannya.
Namun karena sudah tidak punya rumah dan kerabat, Agus mengantarkan Jumrotin ke Mojo.
“Dan ternyata dia juga bukan warga Mojo lagi. Dia pernah pindah ke Padalarang, Jawa Barat,” tambah Agus.
Saat sampai di Mojo, keluarganya menolaknya.
Termasuk anaknya yang merasa ditelantarkan sejak kecil.
Baca: Begini Penjelasan Penyediaan 750 Ribu Lapangan Kerja Oleh Gus Ipul dan Mbak Puti
Karena ditolak, Jumrotin dibawa balik ke Tulungagung.
“Saat itulah dia sakit, kemudian sama polisi dibawa ke RSUD dr Iskak sampai sekarang ini,” tutur Agus.
Agus sudah berusaha mencari solusi ke Dinas Sosial kabupaten dan Provinsi.
Namun ternyata Jumrotin tetap harus mengurus dokumen kependudukan.
Upaya ini terbentur kendala, karena harus menelusuri hingga ke Padalarang, domisili terakhir Jumrotin. (David Yohanes)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-tulungagung-wnita-sendirian-di-tulungagung_20180509_203417.jpg)