Pilgub Jatim 2018
Bertemu Bos Ciputra, Khofifah Ajak Pengusaha Ikut Andil Atasi Ketimpangan dan Kemiskinan
Calon gubernur Jawa Timur nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa mengajak para pengusaha
Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM,SURABAYA - Calon gubernur Jawa Timur nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa mengajak para pengusaha untuk bisa berpartisipasi dalam pengentaskan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan di Jawa Timur.
Hal itu disampaikan oleh Khofifah saat bersilaturahmi dengan para pengusaha di Hotel Ciputra, Jumat (11/5/2018). Turut hadir pula Direktur Ciputra, Sutoto Yacobus, dan jajaran tinggi dari Ciputra Grup dari berbagai unit.
Dalam kesempatan itu, Khofifah mengatakan bahwa Jawa Timur adalah provinsi yang luar biasa. Pertembuhan ekonomi di Jawa Timur selalu di atas rata rata nasional. Tidak hanya itu ekspor Jawa Timur juga tertinggi di Indonesia.
"Namun selama empat tahun ini ketimpangan di Jawa Timur terus naik. Saat ini gini rasio di Jawa Timur mencapai 0,41 persen," kata Khofifah.
Baca: Pasuruan Jadi Sarangnya TKA
Sedangkan saat ini PDRB Jawa Timur mencapai Rp 2024 trilliun. Sedangkan APBD Jawa Timur saat ini setelah penambahan dana perimbangan hanya Rp 30 trilliun. Artinya dikatakan Khofifah APBD hanya stimulan. Lantaran sumbangan untuk PDRB nya hanya 3,2 persen.
"Peran pengusaha sangat signifikan dalam menopang PDRB Jawa Timur yang posisinya terbesar kedua setelah PDRB DKI Jakarta," kata Khofifah.
Penjelasan angka-angka di Jawa Timur itu disampaikan Khofifah dengan tujuan untuk membuka bersama peta ekonomi Jawa Timur.
Sehingga pengusaha yang ada di Jawa Timur bisa melihat pula kondisi ketimpangan Jawa Timur. Yaitu ketimpangan antara desa dan kota, juga ketimpangan antara wilayah utara dan selatan.
Seperti salah satunya ketimpangan kemiskinan, dimana kemiskinan di kota sebesar 7,7 persen. Sedangkan kemiskinan di desa sebesar 14,58 persen.
"Kalau peta ini kami siapkan, maka pengusaha seperti Ciputra ini kan CSR nya besar. Kalau beliau mau mengeluarkan CSR nya itu bisa di titik mana maka akan ikut terarahkan, disalurkan ke titik yang dalam kemiskinannya," kata Khofifah.
Menurut Khofifah membangun partnership antara goverment antara privat sector harus terus dilakukan. Agar bisa ikut bersama-sama memberikan solusi yang komprehensif untuk kemajuan Jawa Timur.
Baca: Saat Pulang, Siswi SD Pergoki Kades Tanpa Baju di Bawah Ranjang Ibunya, Perbuatannya Tak Disangka
Misalnya, Khofifah mencontohkan adanya usaha Sumengko yang kampungnya memiliki usaha shuttlecock. Permasalahan di sana, dikatakan Khofifah usaha di sana tidak berani menbuat brand. Padahal sudah didirikan ssejak tahun 1963.
"Ada sebanyak 70 orang yang punya usaha di sana. Tapi mereka nggak percaya diri untuk membuat brand sendiri. Kalau kemudian ada unsur pendampingan dari pengusaha, mereka bisa survive dan bisa membuat satu brand yang sama," kata Khofifah.
Hal itu sesuai dengan program Khofifah dan juga Emil untuk menggagas Communal Branding. Sehingga ada qualoty control yang sama dan juga supllai yang banyak sehingga bisa menyuplai pasar lebih besar.
"Partnership dengan pengusaha ini yang harus dibangun," kata Khofifah. (Surya/fatimatuz zahroh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-surabaya-khofifah-dan-pengusaha-ciputra-surabaya_20180511_192221.jpg)