Pasien Curhat Praktek Dugaan Kolusi Tebus Obat, Dirut RSUD Caruban Langsung Bentuk Tim Khusus
Dirut RSUD Caruban milik Pemkab Madiun langsung bentuk tim khusus merespon keluhan praktek dugaan kolusi tebus obat.
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Direktur Utama RSUD Caruban Djoko Santoso akan membentuk tim untuk menyelidiki keluhan masyarakat terkait pelayanan di RSUD milik Pemkab Madiun.
Itu dilakukan guna menindaklanjuti keluhan keluarga pasien yang diposting di grup Facebook Wong Madiun, awal bulan Juli 2017 lalu.
"Baru kami rapatkan, ini juga melangkah untuk klariifikasi. Ada tim yang akan dibentuk untuj mengkarifikasi keluhan masyarakat itu," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (16/7/2017) siang.
Menurut Djoko, praktik kolusi yang dilakukan oknum karyawan rumah sakit diduga sudah terjadi sejak lama. Padahal, Djoko mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi terkait dengan aturan, pelayanan, dan juga evaluasi secara rutin.
"Uang jasa pelayanan sudah dikasih, gaji sudah ada. Harusnya kalau ada ketidakpuasan dibicarakan. Jangan mencari dari sumber lain. Ini jelas melanggar, undang-undang, permenkes, pemendagri, perbup, peraturan pemerintah, pedoman, panduan, sop. Ada semua diatur di situ," jelasnya.
Ia sangat menyayangkan masih adanya oknum yang memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan pribadi dengan mengorbankan pelayanan terhadap pasien. Djoko tidak tahu, apakah kegiatan tersebut melibatkan oknum dokter atau oknum perawat.
"Saya tidak tahu, apakah ini perintah dokter atau tidak. Karena, pembelian obat di apotek di luar hanya diperbolehkan ketika obat-obat generik di rumah sakit habis, itupun kami yang akan mencarikannya untuk pasien," tegas Djoko.
Seperti diketahui, sekitar 7 Juli 2018, lalu seorang pemilik akun Facebook bernama Baron Tw (Widodo Budi) mengeluhkan pelayanan di RSUD Caruban di grup Facebook Wong Madiun.
Baron menceritakan pengalamannya saat mendampingi keponakannya yang mengalami kecelakaan dan berobat di RSUD Caruban. Saat itu, dirinya diminta menebus obat di apotek di luar rumah sakit oleh oknum pegawai rumah sakit.
"Pak tolong resep ini ditebus di apotek di luar, jangan lupa minta kwitansi beserta tanda tangan yang bermaterai, karena sebagai bukti untuk pengajuan dana jasa raharja," tulis Baron menirukan ucapan perawat kepadanya pada saat itu.
Selang beberapa waktu, ia kembali dan membawa apa yang dipesan perawat kepadanya, obat dan kwitansi bermaterai. Namun, perawat tersebut justru memarahinya.
"Tapi saya kena marah dari sang perawat tersebut, karena saya membeli obat tidak sesuai dengan apotek yang diinginkan yaitu Apotek Metro. Katanya kalau tidak dari apotek itu, kuitansinya tidak berlaku atau tidak sah," tulis Baron dalam postingannya.
Ia sempat membantah perkataan perawat kepadanya, sebab pada saat menyuruh membeli obat di apotek di luar, perawat tersebut tidak menyebutkan apotek yang dimaksud. Namun, si oknum perawat tetap bersikukuh bahwa kuitansi tersebut tidak sah dan tidak dapat digunakan untuk mencairkan dana asuransi dari Jasa Raharja.
Baron akhirnya menuruti permintaan perawat tersebut. Ia kemudian menyuruh adiknya, menebus apotek sesuai dengan resep dokter ke apotek Metro sesuai arahan si oknum perawat.
Ternyata harga obat di Apotek Metro lebih mahal dibandingkan obat di apotek yang sebelumnya dia beli.
"Harga obat dengan resep yang sama, sangat jauh berbeda. Pada saat saya beli apotek di luar harga Rp 675 ribu. Tapi harga obat di Apotek Metro yang dibeli adik saya dengan resep yang sama Rp 1.350.000," katanya.
Ia kemudian menanyakan terkait perbedaan harga obat tersebut, namun oknum perawat yang ditemuinya tidak mau menjawab.
Ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Baron membenarkan kejadian yang dia alami yang ditulis di grup Facebook.
"Ya seperti yang ditulis itu. Waktu itu kan sebelumnya nggak diinfo mana apotek yang ditunjuk. Cuma dikatakan disuruh beli di apotek yang di luar. Saya milih yang murah, kan persyaratannya minta kwitansi dan tanda tangan bermaterai dari instansi tersebut. Setelah disetorkan ada komen kok nggak di apotik ini, dari awal kan nggak ditunjuk apotik tertentu," tegasnya.
Ia mengaku sangat kecewa dengan pelayanan di RSUD Caruban, dan berharap pihak manajemen segera menindak oknum perawat tersebut.
"Saya cuma minta tolong oknumnya itu dibenahi," imbuhnya. (Surya/Rahadian Bagus)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ilustrasi-obat-ilustrasi-pil-1_20180526_091557.jpg)