Fabio Oliveira: Pelarangan Striker Asing Bukan Solusi Untuk Munculkan Striker Lokal

Wacana pelarangan penyerang asing di klub tanah air menjadi pembicaraan hangat pegiat sepak bola indonesia beberapa waktu ini.

Tayang:
Penulis: Ayu Mufidah Kartika Sari | Editor: Anugrah Fitra Nurani
Persebaya
Pemain Persebaya saat menjalani latihan di Stadion 17 Mei Banjarmasin untuk persiapan lawan Barito Putera, Sabtu (11/8/2018) pagi. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Ayu Mufidah KS

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Wacana pelarangan penyerang asing di klub tanah air menjadi pembicaraan hangat pegiat sepak bola indonesia beberapa waktu ini.

Ide itu diklaim dapat memancing bibit-bibit striker lokal berkualitas untuk unjuk diri.

Namun mantan asisten pelatih Timnas Indonesia, Fabio Oliveira kurang sepaham dengan hal itu.

Dia menyebut, minimnya jumlah penyerang asing bukan merupakan patokan untuk memunculkan penyerang lokal berkualitas.

(Agresif Garap Pasar Jawa Timur, PT Piaggio Luncurkan Dua Seri Vespa Spesial)

(Jadwal Pertandingan Asian Games Kamis 30 Agustus 2018, Indonesia Kokoh dengan 88 Medali!)

Alih-alih melarang keberadaan penyerang asing, PSSI diminta untuk melakukan cara yang lebih efektif untuk meningkatkan kualitas pemain lokal yang ada.

Di antaranya yaitu dengan menggelar adanya kompetisi rutin untuk pemain muda di berbagai usia.

"Sekarang kompetisi lokal untuk striker lokal itu bisa bermain tidak ada. Kompetisi seperti U-16, U-17, U-19, dan U-21, tidak ada kompetisi rutinnya," ujar Fabio pada Selasa (28/8/2018).

"Jangankan striker, pemain di posisi manapun juga kesusahan," sambungnya.

(Agresif Garap Pasar Jawa Timur, PT Piaggio Luncurkan Dua Seri Vespa Spesial)

(Jadi Peserta Tertua, Mbah Tokin yang Berusia 106 Tahun Tetap Semangat Ikuti Tajemtra Sejauh 30 KM)

Fabio menuturkan tidak adanya kompetisi rutin yang digelar untuk pemain junior membuat mereka kekurangan jam terbang.

Hal tersebutlah yang membuat tim enggan menggunakan penyerang lokal dan memilih memainkan penyerang asing yang memiliki jam terbang cukup tinggi.

"Karena klub-klub mikirnya pasti pemain ini bagus dan potensial tapi kurang jam terbang. Jadi pelatih kan juga tidak berani pasang. Kalau udah di kasih kepercayaan di kompetisi junior, nanti di senior dia sudah matang," jelasnya.

(Surabaya dan Sidoarjo Sempat Diguyur Hujan saat Musim Kemarau, Begini Penjelasan BMKG)

(Rumah Kakek 80 Tahun di Lamongan Ludes Terbakar, Barang Berharga dan Perabot Rp 383 Juta Amblas)

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved