Grebeg Suro

Festival Grebeg Suro Banyuwangi Berlangsung Meriah

Festival Grebeg Suro yang digelar di Pekulo, Kecamatan Srono, Banyuwangi berlangsung meriah.

Tayang:
Penulis: Haorrahman | Editor: Yoni Iskandar
Surya/Haorrahman
Acara Grebeg Suro di Banyuwangi 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Festival Grebeg Suro yang digelar di Pekulo, Kecamatan Srono, Banyuwangi berlangsung meriah.

25 tumpeng raksasa diarak menyambut datangnya tahun baru 1440 Hijriyah tersebut. Ribuan masyarakat memadati rute arak-arakan sepanjang tiga kilometer.

"Ini merupakan tradisi tahunan masyarakat Pekulo untuk memperingati satu suro atau datang tahun baru hijriyah," terang Ketua Panitia, Andre Subandrio, saat prosesi pemberangkatan, Senin (10/9).

Tak sekadar perayaan, imbuh Andre, Grebeg Suro juga bertujuan untuk memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan keselamatan dan keberkahan bagi daerah tersebut.

"Leluhur kami mengajarkan demikian untuk membersihkan kampung dari bala, musibah dan marabahaya," ujar Andre.

23 Lukisan Angkat Budaya Lokal Kota Batu di Galeri Raos

Andre bercerita, awalnya tradisi suroan hanya dilakukan secara individu di rumah masing-masing. Sejak 2012, tradisi suroan tersebut dibuat secara serempak satu kampung. Mereka membuat tumpeng dari dua jenis. Ada yang berupa tumpeng nasi kuning atau putih dan ada pula yang berupa tumpeng dari palawija (sayur mayur).

"Agar persatuan dan kebersamaan warga kampung semakin kuat," katanya

Untuk tumpeng yang terbuat palawija, terang Andre, bakal diperebutkan di ujung arak-arakan. Masyarakat Pekulo meyakini, jika mendapatkan bagian dari tumpeng tersebut, bakal mendapatkan keberuntungan satu tahun ke depan.

Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko yang membuka acara tersebut, mengapresiasi grebeg suro yang setiap tahunnya semakin meningkat.

"Acara kali ini ada peningkatan. Kami berharap tahun depan makin meriah dan luas pelaksanaannya," kata Yusuf.

Demokrat Beri Dispensasi DPD yang Dukung Jokowi, PPP: Terima Kasih

Lebih dari itu, Yusuf berharap kepada segenap masyarakat tidak sekadar melestarikan tradisi leluhur tersebut. Namun, juga kembali mengingat nasehat-nasehat para leluhur.

"Ada banyak nasehat dari para leluhur kita, yang harus tetap kita pelajari dan kita amalkan dalam kehidupan kita," harapnya.

Salah satu nasehat tersebut, adalah "urip iku urup". Secara bahasa, artinya orang hidup harus menyala.

"Maksudnya, dalam kehidupan ini, kita harus menjadi pribadi yang "menyala" - bermanfaat. Tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi masyarakat luas," tambahnya. (haorrahman)‎

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved