Kampus di Surabaya
E-STNK, Solusi Terbatasnya Kertas Cetak STNK dan Pengawasan Pemakaian BBM Bersubsidi
Dosen dan mahasiswa Universitas Narotama Surabaya mendapatkan ide untuk membuat E-STNK menggunakan sistem operasi Android.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Anugrah Fitra Nurani
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Dosen dan mahasiswa Universitas Narotama Surabaya mendapatkan ide untuk membuat E-STNK menggunakan sistem operasi Android.
Slamet Winardi, dosen jurusan Sistem Komputer Universitas Narotama dan mahasiswanya, Achmad Rizal mengembangkan prototipe E-STNK ini.
“Awalnya banyak sekali keluhan dari teman-teman sampai kerabat yang sempat harus menunggu sampai 6 bulan saat akan mencetak STNK dan BPKB pada 2017 lalu,” jelas Slamet.
Ide E-STNK ini juga diklaim dapat mengurangi penggunaan kertas dan memperkecil kemungkinan pemalsuan STNK
(Ada Satu Peluru di Ruangan Anggota DPR yang Tersangkut di Lemari)
(Huawei Mate 20 X Resmi Dirilis, Ini Nih Spesifikasinya! Cocok Banget Buat Para Gamers)
Slamet menyebut, STNK elektronik ini juga menjadi solusi beberapa program pemerintah yang gagal.
Misalnya DKI Jakarta yang menerapkan sistem kendaraan berplat ganjil-genap untuk menekan angka kemacetan, tetapi tidak memiliki sistem pengawasan yang baik sehingga kinerja program ganjil-genap itu tidak optimal.
“Ada lagi program pemerintah untuk pembatasan bahan bakar premium yang gagal karena tidak adanya sistem untuk mengawasi dan melacak. Padahal dengan internet of things, yaitu dengan E-STNK, pengawasan bisa dilakukan dengan lebih akurat,” lanjutnya.
Sementara di Jatim, adanya aturan yang membatasi kendaraan dengan plat luar Jatim hanya sebatas 3 bulan, selebihnya harus berpindah menjadi plat Jatim.
Sayangnya selama ini pengawasannya yang tidak maksimal.
“Solusinya bisa dengan sensor di perbatasan Jatim-Jateng dan memanfaatkan sistem E-STNK yang kami kembangkan,” ujarnya.
(Huawei Mate 20 X Resmi Dirilis, Ini Nih Spesifikasinya! Cocok Banget Buat Para Gamers)
E-STNK yang dikembangkan Slamet bersama Rizal, ini berbasis Android dengan menggunakan chip wimos esp8266.
“Konsepnya, pemilik kendaraan mendaftarkan kendaraan mereka ke Polda atau Polrestabes dan mendapatkan nomor plat yang kemudian dimasukkan ke dalam server,” tambah Rizal.
Dari data yang sudah tersimpan di dalam server lalu disalurkan ke dalam chip yang dipasangkan ke kendaraan.
“Jadi chip yang terpasang di kendaraan itulah yang menyimpan data STNK yang bisa terbaca setelah sinkronisasi dengan kode unik yang hanya dipunyai pemilik kendaraan di aplikasi E-STNK di Android,” terang pria kelahiran 16 Maret 1990 itu.
Saat ini E-STNK yang mereka buat memang masih prototipe dan masih harus terus dikembangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/e-stnk-surabaya_20181017_145008.jpg)