Hari Santri 2018

Ini Sosok di Balik Peringatan Hari Santri dari Malang yang Ingin Gagas Doa Resmi

Jika menoleh kepada sejarah, Hari Santri digagas Gus Thoriq sejak 2009 melalui pertemuan 106 pengasuh pesantren di Malang.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Yoni Iskandar
(surya/Erwin Wicaksono)
Gus Thoriq Darwis Bin Ziyad 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Sosok sentral dalam peringatan Hari Santri Nasional Kiai Thoriq Darwis Bin Ziyad patut berbangga karena setiap 22 Oktober menjadi hari besar bagi para santri di negeri ini.

Gus Thoriq sapaan akrabnya berharap peringatan hari santri bukan hanya sekedar peringatan semata. Namun, menjadi momentum bagi santri mengeluarkan resolusi untuk menjawab masalah yang dihadapi bangsa Indonesia

"Ini adalah titik awal para santri untuk memberi andil resolusi untuk menjawab masalah yang dihadapi negeri," terang Gus Thoriq pada TribunJatim.com, Senin (22/10/2018).

Thoriq ingin santri punya andil penting dalam mencegah dan mengatasi perbedaan di Indonesia. Salah satunya mengusulkan doa resmi yang seragam.

Terjatuh pada Lap-lap Akhir MotoGP Jepang 2018, Andrea Dovizioso Mengaku Hindari Marc Marquez

Doa tersebut dicanangkan untuk membangun optimisme, membangun negara.

Thoriq menyebut doa itu dia namakan Shalawat Indonesia. Shalawat diciptakan dan ditambah doa khusus untuk Indonesia.

"Itu penting sehingga doa tak dipolitisasi untuk kepentingan politik tertentu, mari bershalawat untuk negeri," tambahnya pada TribunJatim.com.

Ia berpendapat jika seluruh umat muslim di negeri ini bersatu bershalawat maka berbagai masalah yang sedang meundung negeri ini dapat terselesaikan.

Thoriq mengusulkan doa resmi lantaran dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 juga dituliskan atas berkat rahmat Allah. Sehingga setelah merdeka tak boleh melupakan kekuatan doa.

Kinerjanya Dipuji Luar Biasa Oleh Sandiaga, Menteri Susi: Kalau Dia Ngomong Lagi, Saya Tinggal Tidur

"Doa resmi cukup singkat dan padat. Juga bisa menangkal radikalisme," ungkapnya.

Perjuangan Indonesia, katanya, tak bisa dipisahkan dari gerakan para santri. Untuk itu Ia berharap hari santri terus diperingati bersama dan memberi kemaslahatan bagi umat.

Jika menoleh kepada sejarah, Hari Santri digagas Gus Thoriq sejak 2009 melalui pertemuan 106 pengasuh pesantren di Malang.

Kemudian dilanjutkan dengan diskusi di Universitas Jember pada 2012. Bahkan saat itu PBNU merekomendasikan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikannya.

Thoriq mengusulkan 1 Muharam sebagai hari santri. Usulan itu sampai ke tangan Joko Widodo sebelum pemungutan suara 2014. Jokowi kemudian meresmikan 22 Oktober sebagai hari santri. Hal ini sesuai resolusi jihad yang dikeluarkan Kiai Haji Hasyim Asyari. (ew/TribunJatim.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved