Kikis Habis HTI di Lamongan, Polres Gandeng Pihak Kampus
Kikis habis HTI di Kabupaten Lamongan, Polres memilih menggandeng pihak Kampus dan kalangan akademisi.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Meski sudah resmi dibubarkan, nama Hizbut Tahrir Indonesia atau akrab disebut HTI masih menjadi perhatian banyak pihak.
Tak terkecuali, Polres Lamongan Jawa Timur juga konsen untuk mengingatkan tentang bahaya HTI.
Caranya diwujudkan dengan menggelar seminar dan sosialisasi bahaya HTI terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Jumat (2/11/2018) siang di Gedung Olahraga Universitas Islam Lamongan (Unisla).
Seminar siang tadi, diselenggarakan bersama Universitas Islam Lamongan (Unisla) Lamongan.
Kapolres Lamongan AKBP Feby D.P. Hutagalung menguraikan, Hizbut Tahrir telah memicu kerusuhan dimana-mana bahkan tidak hanya di Indonesia, tetapi di beberapa negara lain. Mereka dengan tega membunuh saudara sesama Muslim dengan alasan yang mereka benarkan.
"Kita semua mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengikis habis bahaya HTI," katanya.
Makanya, harus memberikan pemahaman pada masyarakat terkait hal tersebut. Agar faham HTI tidak semakin meluas.
Feby menambahkan, tujuan utama kegiatan seminar adalah sebagai upaya untuk menangkal dan menghapus paham HTI di Lamongan.
"Sudah jelas HTI ingin merubah dasar dan sistem negara di Indonesia," katanya.
Sampai saat ini Lamongan masih kondusif dan tidak begitu signifikan perkembangannya, meskipun masih ada informasi beberapa masyarakat yang terlibat.
Sedangkan salah satu mantan aktifis HTI Dr. Ainur Rofiq Al Amin diforum seminar itu mengajak masyarakat untuk cerdas menerima informasi melalui media sosial karena saat ini disitu banyak orang yang berlagak pintar, namun komentarnya tidak rasional.
Jangan bermedsos terlalu gila, diskusi tidak rasional, seakan akan paling mengetahuinnya. Namun ketika di tantang ketemu langsung tidak ada yang berani.
Rofiq menegaskan, pihaknya tidak pernah sepakat bendera bertuliskan kalimat tauhid di politisasi dengan mengatasnamakan agama.
Kemudian di gunakan untuk kekerasan apalagi dijadikan dalil pembenaran membunuh sesama muslim, seperti yang telah terjadi di beberapa negara timur tengah.
"Saya keluar dari HTI, setelah saya lebih banyak membaca buku, berdiskusi dan membaca sejarah," katanya.
Gerakan ini ternyata banyak bertentangan dengan nilai Islam dan ideologi Indonesia. (Hanif Manshuri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/polres-lamongan-gelar-seminar-lawan-hti_20181102_184304.jpg)