Ikut Program Bayi Tabung Sejak 2017, Pasangan dari Sidoarjo Ini Lahirkan Bayi Triplet di Surabaya

Ini dirasakan Duwi Purwita Sari (32) dan Luqman Arif (33), warga Sidoarjo yang berulang kali berkonsultasi dengan dokter hingga lahir bayi kembar tiga

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Sudarma Adi
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
suami istri, Lukman Arif dan Dwi Puspitasari menggendong tiga bayi tabung triplet, Ameera, Neyra dan Annisa usai menjalani perawatan di selama 27 hari di RSIA Kendangsari 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Lima tahun usia pernikahan bukan waktu yang singkat untuk menantikan momongan.

Hal ini dirasakan Duwi Purwita Sari (32) dan Luqman Arif (33), warga Sidoarjo yang telah berulang kali berkonsultasi dengan dokter.

Hingga melahirkan bayi kembar tiga (triplet) November lalu di RSIA Kendangsari.

"Tahun 2016 saya putuskan keluar dari pekerjaan saya, mau jaga kondisi badan karena kerjaan saya harus naik turun tangga," ungkap Duwi ketika ditemui saat proses pemulangan ketiga anaknya usai dirawat 27 hari di RSIA Kendangsari, Selasa (11/12/2018).

Usus Buntu Bayi kembar Siam Rochman Berukuran Diluar Normal Bantu Penyempurnaan Lubang Kencing

Setelah mempersiapkan diri dan berkonsultasi, Duwi dan suaminya memutuskan mencoba program bayi tabung mulai Oktober 2017.

"Mulai program Oktober 2017, sperma suami diperbaiki, dan April 2018 sudah mulai dimasukkan ke rahim," urainya.

Usai hamil, Duwu juga memutuskan mengikuti saran untuk bedrest total, apalagi ternyata dari empat embrio yang dimasukkan di rahimnya, tiga diantaranya tumbuh dengan sehat.

"Kami juga sempat terkejut kalau kembar tiga di kehamilan pertama saya,"urainya.

Sempat Viral Jadi Bayi Kembar 7 Pertama di Dunia, Sekarang Begini Kehidupan dan Penampilan Mereka

Proses kehamilan bagi Duwi bukan hal yang sulit, meskipun ia harus melahirkan prematur secara caesar.

Ketiga anak perempuannya lahir dipanggil Annisa, Neyra, Ameera.

Ketiganya dirawat intensif karena berat badan di bawah 1,7 kilogram.

Meskipun belum bisa membawanya pulang, tetapi Duwi sudah bisa memberikan ASInya dan juga memberikan gendongan skin to skin.

Dokter kandungan, Prof Budi Santoso SpOg mengungkapkan, ketiga bayi Duwi merupakan bayi kembar ketiga yang ditangani, yang dua sebelumnya lahir prematur dan tidak selamat.

"Saya sempat ndredeg dan was-was saat tahu kembar tiga. Karena kembar lebih dari itu tingkat resiko abortus dan prematurnya tinggi," paparnya.

Untuk itulah Prof Budi menyarankan persiapan tim pediatrinya dengan baik.

Apalagi berat lahir bayi hanya 1.400 gram, 1.500 gram dan 1.600 gram.

Dokter anak RSIA Kendangsari, dr Diana Amilia Susilo SpAK mengungkapkan selama 27 hari ketiga bayi dirawat secara intensif agar stabil.

Karena kondisi bayi prematur biasanya mengalami berbagai masalah pada organ vitalnya.

"Bayi pertama, Ameera ada masalah di pencernaan, kembung dan sempat muntah. Khawatirnya Necrotizing Entero Colitis (NEC) atau pembusukan usus karena masalah pencernaan. Akhirnya minumnya dikurangi dan penyembuhan alami. Dengan ASI juga karena ASI mengandung growth factor,"urainya.

Ia mengungkapkan upaya penstabilan ketiga bayi ini dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif bahkan sejak awal sudah diberi colostrum.

"Yang paling terakhir, yang paling kecil justru paling cepat stabil, paling cepat minum susunya dan nyari ibunya,"urainya.

Saat ini ketiga bayi diizinkan pulang karena sudah bisa minum lewat mulut, suhu tubuhnya juga bisa menyesuaikan lingkungan, dan tanda vitalnya stabil.

"ASI ibunya bertahap naik pelan-pelan, awalnya tiap tiga jam pumping pakai tangan. Sempat nyeri dan lain-lain usai melahirkan ya kami semangati. Kami buat rileks dan sepercaya diri mungkin bisa menghasilkan ASI yang cukup ubtuk ketiga anaknya,"ujarnya.

Selanjutnya, ia mengungkapkan ketiga bayi masih harus kontrol usai 10 hari untuk memantau tumbuh kembang ketiganya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved