Kembangkan Mobil Listrik, Kurangi Ketergantungan Energi Fosil, Alihkan Energi Ramah Lingkungan

SESUAI dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN), Indonesia berupaya mengalihkan konsumsi energi yang sebelumnya berbasis pada energi fosil minyak, gas,

Kembangkan Mobil Listrik, Kurangi Ketergantungan Energi Fosil, Alihkan Energi Ramah Lingkungan
Sumber : Humas Kementerian Perindustrian (Kemenperin)
Mobil listrik yang bisa mengurangi kKetergantungan Energi Fosil dan ramah lingkungan 

Pengamat ekonomi makro dari Universitas Indonesia, Faisal Basri dalam satu kesempatan menyatakan, sejalan dengan arah menuju green economy dan mengurangi dampak lebih besar dari perubahan iklim dan pengurangan emisi gas buang, saat ini salah satu penyumbang gas buang terbesar adalah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil.

“Ketika ditanya siapa yang mengkonsumsi bahan bakar fosil paling besar adalah sepeda motor. Oleh karena itu kalau ingin mengembangkan kendaraan listrik, lebih feasible jika mengembangkan sepeda motor. Selain teknologinya lebih sederhana, infrastruktur pendukungnya juga lebih mudah dibangun.
Jadi tidak harus menggunakan tenaga listrik tegangan tinggi seperti pada mobil listrik. Kendaraan lainnya bisa juga yang bentuknya berupa public transport seperti bus, mengingat sekarang ini jumlah kendaraan bus sudah semakin banyak di Indonesia.

Bagi saya prioritas tertinggi sebenarnya adalah untuk membangun industri sepeda motor listrik. Mengapa demikian, karena untuk sepeda motor listrik, argumennya adalah yang paling feasible dan paling mudah terjangkau harganya adalah sepeda motor, itu pertama.

Kedua, kita jangan membayangkan produksi motor listrik tetiba menjadi 10 juta unit, melainkan produksi dilakukan secara bertahap. Usul saya pengguna sepeda motor listrik diberi fasilitas untuk parkir khusus. Bahkan diupayakan di hotel dan mal (pusat belanja) disediakan fasilitas parkir untuk sepeda motor listrik, dengan mengurangi jatah mobil. Hal tersebut akan menunjukkan adanya keberpihakan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Pemerintah Spanyol, yang memberi fasilitas khusus kepada pengendara sepeda motor. Karenanya diharapkan di Indonesia, di mana retribusi parkir sudah diurus pemerintah daerah, ini menjadi perhatian khusus.

Begitu juga dengan pedagang kaki lima yang memakai motor listrik, sebaiknya diberi tempat fasilitas khusus kaki lima, bukan lokasi angkutan barang.

Ketiga, apabila dipandang dari segi teknologi, pembuatan sepeda motor listrik lebih sederhana, dibanding teknologi untuk mobil listrik. Sebab jika industri produsen motor dari Jepang tidak mengembangkan industri sepeda motor listrik di Indonesia, maka saat ini menjadi momentum kita mengembangkan industri sepeda motor listrik sendiri.

Nantinya apabila kita punya produksi motor listrik sendiri, dan menggunakan merek sendiri, akan mengurangi ketergantungan kepada produksi motor Jepang,” papar Advisory Board pada Indonesia Research and Strategic Analysis (IRSA) ini.

Ditambahkannya, “Bicara sepeda motor listrik dan mobil listrik, maka teknologi kuncinya adalah pada baterei. Maka bagaimana caranya supaya baterainya jangan seperti keluhan mereka yang sedang mencoba kendaraan listrik, baru setahun sudah drop kapasitas batereinya. Untuk itu kita juga harus mampu menguasai teknologi baterei.

Di dunia ini hanya ada satu tempat untuk recycling baterei yaitu Belgia. Jadi teknologinya khusus, sehingga harus disiapkan dari sekarang.

Halaman
123
Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved