Wagub Jatim Emil Dardak Berangkatkan Ekspor Perdana 7 Ton Nilam Ngawi ke India
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Dardak memberangkatkan ekspor perdana nilam Ngawi sebanyak tujuh ton ke India.
Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Arie Noer Rachmawati
TRIBUNJATIM.COM, NGAWI - Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Dardak memberangkatkan ekspor perdana nilam Ngawi sebanyak tujuh ton ke India.
Ekspor nilam perdana itu dilakukan saat acara Agro Gemilang Ekspor Generasi Milenial Bangsa Kabupaten Ngawi di Notosuman, Kabupaten Ngawi, Rabu (27/2/2019)
Ekspor perdana nilam sebanyak tujuh ton itu di India per kilogramnya dihargai sebesar USD 1,65 atau Rp 23.142, 0,75 per kilogram.
Menurut Bupati Ngawi Budi Sulistyono "Kanang" tanaman nilam itu di Ngawi mulanya hanya sebagai tanaman yang tumbuh liar di perkebunan di lereng Gunung Lawu, di wilayah Kecamatan Ngrambe dan Jogorogo, Ngawi.
• Wagub Emil: KAD Jatim dan KPK RI Diharapkan Mampu Tegakkan Integritas di Jatim
• Panen Raya Jagung di Tuban, Menteri Pertanian Optimis Tahun Ini Ekspor Jagung Hingga 500 Ribu Ton
"Awalnya tanaman nilam itu bagai tumbuhan liar tidak berguna. Namun diluar dugaan, daun nilam diluar negeri banyak diminati, sebagai bahan obat obatan, dan kosmetik," kata Kanang kepada Surya (grup TribunJatim.com), Rabu (27/2/2019).
Kini, lanjut Bupati Kanang, setelah tahu kegunaan dan harga daun nilam setara Rp 23.142, 075 atau USD 1,65 per kilogram.
Warga berebut mendapatkan bibit tanaman nilam untuk ditanam hingga dipastikan layak dipanen.
"Saya berharap, agar ekspor daun nilam ini tidak hanya menjadi prestasi segelintir orang saja. Namun perlu disebar luaskan kepada para petani," kata mantan Bupati Trenggalek ini.
Dikatakan Kanang, kini saatnya generasi milenial mulai masuk ke hulu.
• Menteri Susi Lihat Olahan Rumput Laut di Sidoarjo, Nelayan Curhat Cari Pasar Ekspor dan Jalan Rusak
• Menteri Pertanian Memastikan Akan Balikkan Sejarah Impor Jagung Menjadi Ekspor
Tidak hanya menjual, tapi terlibat juga dalam menanam sehingga di hulu selalu ada perbaikan.
"Bagaimana caranya ekspor ini tidak menjadi prestasi satu dua orang saja. Perlu disebar luaskan kepada para petani. Saatnya generasi milenial masuk ke hulu, tidak hanya mengumpulkan dan menjual, tapi terlibat dalam penanaman sehingga ada perbaikan di hulu,"jelasnya.
Dituturkan Bupati Kanang, untuk meningkatkan volume ekspor daun nilam di Ngawi di butuhkan waktu hingga empat tahun ke depan.
Selain daun nilam, di Ngawi banyak potensi seperti kopi, dan cengkeh.
Acara ekspor daun nilam perdana itu dihadiri anggota DPR RI Ibnu Multazam, Bupati Ngawi Budi Sulistyono Kanang, Kepala Badan Karantina pertanian Ali Jamil, dan ratusan petani dan Tani Milenial.
"Ini baru penjajakan awal, ada sejumlah kubutuhan belum industri perkebunan, baru taraf kebun rakyat, karena daun nilam di luar dugaan dunia memerlukan, makannya kita industri," tandas Bupati Ngawi Budi Sulistiyono Kanang. (Surya/Doni Prasetyo)