Semarak Ramadan 2019

Mengapa Malam Lailatul Qadar Identik pada 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan? Ini Penjelasan PWNU Jatim

Sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan, umat Islam dijanjikan sebuah malam yang memiliki keutamaan bernilai tinggi dibanding malam lainnya.

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Arie Noer Rachmawati
TRIBUNJATIM.COM/LUHUR PAMBUDI
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PWNU Jatim KH Ilhamullah Sumarkan. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan, umat Islam dijanjikan sebuah malam yang memiliki keutamaan bernilai tinggi dibanding malam-malam lainnya yakni malam Lailatul Qadar.

Dalam Alquran, malam Lailatul Qadar dimetaforkan sebagai malam yang bernilai tinggi.

Saking tingginya, derajat kemuliaan malam tersebut mampu mengalahkan keutamaan ibadah pada malam seribu bulan.

Kapan Malam Lailatul Qadar Jatuh di Ramadhan 2019/1440 H? Begini Penjelasan Quraish Shihab

Tanda-tanda Kedatangan Malam Lailatul Qadar di Ramadan 1440 Hijiriah, Suasana Sejuk pada Malam Hari

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama' (LDNU) PWNU Jatim KH Ilhamullah Sumarkan menerangkan, malam Lailatul Qadar merupakan kemuliaan malam yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya.

"Lailatur qadar adalah salah satu diantara kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad dan umatnya," katanya saat ditemui TribunJatim.com di UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (26/5/2019).

Bila ditilik historisitasnya, malam Lailatul Qadar merupakan suatu malam yang diberikan kepada Nabi Akhir Zaman Muhammad SAW karena adanya kecemburuan dalam aspek ibadah yang muncul dari kalangan sahabat-sahabatnya.

Para sahabat kerap kali muncul rasa cemburunya ketika dikisahkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa umat-umat terdahulu mampu hidup selama ratusan tahun.

Ada yang berusia sampai 500 tahun, bahkan ada yang menyentuh angka 900 tahun.

"Kecemburuannya tentang apa ya tentang kebaikannya, 'wah hidup 500 tahun, dibuat ibadah betapa mulianya' gitu," lanjutnya.

Sumarkan melanjutkan, para sahabat merasa cemburu mendengar kisah-kisah itu, lantaran usia manusia pada umumnya dimasa para sahabat hidup, tidak lebih dari 100 tahun, sekitar 60 tahun hingga 70 tahun.

Atas dasar itu, kemudian Allah SWT memberi mandat kepada Malaikat Jibril untuk diberikan langsung pada Nabi Muhammad SAW dengan maksud menjawab kegalauan dan kecemburuan umatnya.

"Dengan 'inna anzalnahufi lailatul qadar', aku turunkan malam lailatul qadar. Apa itu? 'Lailatul qadari hoirum min alfisahri' malam lailatul qadar adalah malam yang terbaik dari 1000 bulan," katanya.

Sumarkan menegaskan, malam Lailatul Qadar hanya ada di Bulan Ramadan.

Tanda-tanda Seseorang Dapat Malam Lailatul Qadar, Perhatikan Ciri-ciri Datangnya Malam 1.000 Bulan

Ustaz Abdul Somad Jelaskan Waktu Jatuhnya Malam Lailatul Qadar Bulan Ramadan 2019/1440 H

Namun, berdasarkan kesepakatan para ulama, ada yang menyebut malam itu terdapat dimalam 10 hari terakhir.

Adalagi, yang menyebut bahwa malam itu ada dimalam-malam ganjil.

"Mengapa kok digitukan? untuk memotivasi orang agar meraihnya. Karena kalau sudah sampai di malam 20, orang banyak yang tidak berfikir ke terawihnya," jelasnya.

"Supaya apa? Supaya termotivasi untuk mencari yang ini. Dengan dirahasiakan itu, orang cenderung akan mencarinya," tandasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved