Mengintip Kampung Kendangsari Gang 2, Terapkan Tradisi Jaga Kampung Bagi Warga yang Tak Mudik
RT 1, RW 3 Kendangsari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo merupakan kawasan Kendangsari yang menerapkan tradisi jaga kampung di depan gang setiap lebaran.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Arie Noer Rachmawati
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Lebaran menjadi kesempatan masyarakat untuk berkunjung ke rumah keluarga.
Baik di dalam kota maupun luar kota, tradisi mudik ke kampung halaman juga tak lepas menjadi rutinitas warga Surabaya yang memiliki keluarga di kota lain.
Situasi mudik ini mengakibatkan banyak kampung di Surabaya menjadi sepi.
Masyarakat kebanyakan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong selama pekan lebaran.
• VIRAL Video Bocah Ngamuk dan Nangis di Jalanan, Diduga Gara-gara Tak Dapat Sinyal di Kampung Halaman
• Kampung Mangga di Rungkut Surabaya, Pertahankan Tradisi Bagi-bagi Mangga Saat Musim Panen
Melihat kondisi ini wilayah RT 1, RW 3 Kendangsari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo yang merupakan kawasan Kendangsari gang dua menerapkan tradisi jaga kampung di depan gang setiap lebaran.
Kondisi ini jelas berbeda dari sehari-hari, yang mana kawasan ini terbuka untuk umum tanpa penjagaan petugas keamanan maupun warga.
Suratman, Ketua RT 1 mengungkapkan sejak dirinya menjabat sebagai Ketua RT, tradisi menjaga kampung oleh warga yang tidak mudik selama lebaran sudah dilakukan.
"Sejak 5 Juni 2019, kami menerapkan jaga kampung, ini diadakan seluruh Kelurahan Kendangsari. Penjagaan terus dilakukan selama lebaran ini karena banyak warga yang mudik karena kerabatnya di luar kota," paparnya.
Ia menjelaskan, sebelum hari raya seluruh warga yang belum mudik akan mendapat giliran jaga setiap malam.
Saat hari raya, warga yang mudik dikenakan biaya untuk membayar warga yang mau berjaga di kampung dan tidak mudik.
"Jadi sukarela dari warga untuk warga yang mau membantu saudara yang mudik. Mulai dari warga asli hingga warga pendatang yang di kos-kosan juga ikut memberikan bantuan dana jaga ini," lanjutnya.
Dikatakannya, sistem jaga selama lebaran dilakukan selama tiga shift.
Setiap shiftnya dijaga empat warga yang terbagi di gang depan dan di pos RT yang perbatasan dengan RT 2.
"Sebelumnya kami adakan rapat kalau ada tarikan dan ini sebagai pengelolaan tim keamanan mau dibagi berapa shift," katanya.
Meskipun membutuhkan 12 warga setiap harinya untuk berjaga, kampung tak pernah kekurangan warga yang sukarela berjaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/tradisi-jaga-kampung-di-kendangsari-surabaya.jpg)